Welcome to My Blog and My Life

Stay Tune!:]

Selasa, 24 Juli 2012

GUE DIANTARA MEREKA – PART 4


 

Tanpa membuang waktu, Gabriel sudah dalam posisi yang siap untuk menonjok Cakka, namun satu suara menghentikan niatnya itu.,

"Gabriel,.!!!" Terdengar suara dari arah belakang Gabriel,

Gabriel kini masih dalam posisi tangan kiri mencekal kerah seragam Cakka dan tangan kanannya kini mengepal tepat berada di depan wajah Cakka. Nafasnya memburu seiring detak jantungnya yang tak beraturan karena emosi.

"Gabriel kamu ini apa-apaan sih.,???kerjaan kamu cuma buat onar aja, ga ngerti kamu sama surat peringatan yang sekolah kasih ke kamu kemaren.,???" Ujar seseorang itu yang ternyata Pak Duta, Kepala Sekolah dari SMA dimana tempat Gabriel sekolah.

Gabriel akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Namun emosi yang memuncak masih terpancar dari sorot mata Gabriel.

"Kamu ikut saya ke kantor." Perintah Pak Duta kepada Gabriel

Cakka tersenyum sinis penuh dengan kemenangan. Sedangkan Gabriel masih dengan mata menatap tajam kearah Cakka kini mengikuti langkah Pak Duta menuju ruangan kepala sekolah.

***

Ruangan itu tidak terlalu luas, tidak terlalu banyak barang juga disana. Hanya terlihat satu meja kerja dengan beberapa tumpuk buku diatasnya. Satu set sofa sebagai tempat menerima tamu, satu buah lemari kaca yang penuh oleh piala-piala yang menggambarkan banyaknya prestasi yang telah diraih oleh SMA itu, dan satu buah lemari susun berisi berkas-berkas penting dari SMA tersebut.

Terlihat Gabriel duduk berhadapan dengan Pak Duta di meja kerjanya, suasana di ruangan itu terasa begitu penuh ketegangan.

"Apa yang terjadi tadi betul-betul ga bisa di tolerir lagi Gabriel, apalagi kamu sudah dapat surat peringatan kemarin, kamu tau kan konsekuensinya apabila kamu melakukan kesalahan lagi." Ujar Pak Duta membuka pembicaraan.

Gabriel tak bersuara sedikitpun. Tak ada sedikitpun rasa takut atau rasa penyesalan di pikirannya Gabriel. Gabriel hanya duduk tegak dengan pandangan mengarah tepat kearah mata dari kepala sekolahnya itu. Kedua tangannya kini bersembunyi dalam saku tangannya.

"Gabriel kamu denger ga sih apa yang saya bilang barusan.,???" Kembali Pak Duta bertanya kepada Gabriel, karena pertanyaannya tadi sama sekali tak ditanggapi oleh Gabriel.

"Saya ga salah Pak." Hanya kalimat pendek itu yang akhirnya keluar juga dari mulutnya Gabriel.

"Kamu pikir saya percaya kata-kata kamu," Ujar Pak Duta

"Terserah bapak mau percaya atau tidak, yang jelas saya ga salah" Gabriel tetap dengan keyakinannya.

"Oke kalo kamu bilang kamu ga salah, namun dalam hal ini bukan masalah tadi saja yang ingin saya sampaikan." Kata Kepala Sekolah itu tegas.

"Saya dengar kamu juga sering merokok di lingkungan sekolah, kamu tau kan itu hal yang paling dilarang di SMA ini."

Untuk hal ini Gabriel betul-betul tidak bisa menyangkalnya.

Tepat pada saat itu terdengar suara ketukan di pintu ruangan Kepsek itu.

"Masuk.," Kata Pak Duta, mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu tadi untuk masuk. Terlihat wajah manis seorang gadis dengan lesung pipitnya berdiri di ambang pintu ruangan Kepsek itu.

"Sivia, ada perlu apa.,???" Tanya Pak Duta

Gabriel yang mendengar nama Sivia disebut spontan membalikan posisi badannya yang memang membelakangi pintu.

"Permisi pak, boleh saya masuk.,???" Tanya Sivia dengan sopan, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sikap Gabriel yang semaunya.

Setelah Pak Duta memperbolehkannya masuk, Sivia akhirnya mendekati meja Pak Duta dengan sekilas melirik kearah Gabriel.

"Maaf Pak kalau saya lancang, maaf juga kalau saya ikut campur dengan urusan bapak dengan Gabriel, tapi disini saya mau bilang kalau Gabriel memang ga salah Pak.," Terang Sivia.

Gabriel yang mendengar perkataan Sivia itu kini mengalihkan pandangannya kearah Sivia, namun Sivia yang merasakan tatapan itu tetap mengarahkan pandangannya kearah Pak Duta.

"Apa dasar kamu mengatakan hal itu Via.,???" Tanya Pak Duta

"Karena pada saat kejadian saya berada di tempat itu Pak, dan kalau bapak mau menegur seseorang harusnya bapak menegur Cakka, soalnya tadi dia yang mulai semuanya Pak." Terang Sivia panjang lebar.

"Begitu ceritanya, tadi juga Gabriel sudah bilang kalau dirinya tidak bersalah." Kata Pak Duta

"Berarti bapak tidak akan memberikan sanksi sama Gabriel kan Pak.,???" Tanya Sivia lagi. Gabriel sendiri yang sedang di bela Sivia acuh tak acuh, dia sama sekali tak peduli dengan apa yang akan terjadi padanya nanti.

Pak Duta menggelengkan kepalanya.

"Maksud bapak.,???"

"Saya masih harus memberikan Gabriel sanksi untuk masalah lain.," Terang Pak Duta

"Apa Pak.,???"

"Gabriel terkena sanksi skors tiga hari karena dia merokok di lingkungan sekolah. Masih mau membela untuk hal ini Via.,???"

Untuk hal yang satu ini Sivia sama sekali tak bisa berkutik. Tak ada satu katapun yang bisa menyangkal untuk hal ini. Sivia hanya bisa menelan ludahnya sendiri.

"Ga ada kan Via, itu artinya mulai hari ini Gabriel terkena skors tiga hari. Persoalan selesai, kalian boleh meninggalkan ruangan ini sekarang." Ujar Pak Duta tegas.

Gabriel langsung bangkit dari duduknya, dan langsung meninggalkan ruangan itu tanpa mempedulikan Via yang mati-matian membela dirinya.

"Saya permisi pak.," Kata Sivia pamit, kemudian meninggalkan ruangan itu juga.

Tiba di kelasnya, Gabriel langsung merapikan beberapa bukunya yang berantakan di meja, memasukan kedalam tasnya, dan pergi meninggalkan kelasnya.

Di koridor depan kelasnya, Gabriel berpapasan dengan Sivia yang baru kembali dari ruangan Kepsek tadi.

"Gw ga butuh lu bela tadi, jangan jadi sok pahlawan deh." Ujar Gabriel kepada Sivia dengan bernada sinis.

"Gw ga bela lu kok, gw cuma bilang apa yang benar, gw cuma menerangkan apa yang gw liat, gw bakal ngelakuin hal yang sama meskipun bukan elu yang ada di posisi tadi." Terang Sivia tegas.

Gabriel yang mendengar ucapan Sivia tadi hanya menoleh sekilas kearah Sivia, dan melanjutkan langkah kakinya kearah gerbang keluar.

"Sebenernya gw emank belain elu kok Yel.," Ujar Sivia dalam hatinya.

Sivia tak melepaskan pandangannya dari punggung Gabriel yang kini berjalan membelakanginya. Sedikit demi sedikit tubuh Gabriel pun hilang dari penglihatannya.

Sivia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Kepeduliannya terhadap Gabriel sudah tidak masuk akal, sudah tidak wajar. Dia memang merasakan sesuatu yang lain di hatinya terhadap Gabriel.

"Gw ga bisa biarin Iyel menghadapi ini sendirian, gw harus ketemu sama Iyel." Tekad Sivia dalam hatinya.

***

Kabar di SMA itu selalu cepat tersiar ke seluruh penjuru sekolah. Tak terkecuali kabar tentang skorsing Gabriel. Dan kabar ini pun telah terdengar oleh Rio, yang notabene salah satu guru di SMA tersebut dan tak lain adalah kakak Gabriel juga.

Kini Rio telah duduk di meja ruangan Kepala Sekolah, dimana kurang lebih tiga puluh menit yang lalu Gabriel duduk di tempat yang sama dan berbicara dengan orang yang sama.

"Saya tahu kamu menghadap saya mau bicara soal Gabriel kan.,???" Tanya Pak Duta

"Betul sekali pak, saya dengar bapak memberikan skors kepada Gabriel, saya mohon pak tolong tarik kembali sanksi yang bapak beri." Pinta Rio

"Maaf Pak Rio, untuk kali ini saya tidak bisa lagi memberikan kelonggaran untuk adik bapak tersebut."

"Saya mohon pak, saya yakin kok Gabriel tidak ada niat untuk memukul Cakka." Bela Rio lagi

"Saya memberikan skors bukan untuk masalah itu pak Rio.,"

"Maksud bapak.,???"

"Saya memberikan sanksi karena dia merokok di lingkungan sekolah. Dan bapak tahu sendiri kan itu hal yang paling tidak bisa di tolerir di sekolah ini"

"Tapi pak saya mohon Pak, saya akan akan berusaha mengubah sikap Gabriel yang seenaknya itu. tolong Pak sekali lagi saya mohon beri Gabriel kesempatan." Ujar Rio dengan betul-betul memohon kepada atasannya di sekolah itu.

"Sekali lagi saya mohon maaf Pak Rio, tapi keputusan itu sudah saya ambil. Dan menurut saya itu keputusan yang paling tepat."

"Kalo boleh saya menyarankan, dalam masalah ini sepertinya bapak tidak perlu berbicara dan memohon kepada saya, tapi orang yang harus bapak ajak bicara adalah Gabriel. Karena menurut saya inti dari setiap permasalahan Gabriel ada di dalam diri Gabriel sendiri, dan mungkin anda sebagai kakaknya akan lebih mengerti hal itu." terang Pak Duta.

Rio menghela nafas panjang. Dia merasa begitu bersalah karena tidak bisa membela adiknya sendiri. Dalam hal ini Rio tahu benar Gabriel yang salah, tapi dia merasa bertanggung jawab atas sikap Gabriel yang menjadi seperti sekarang.

"Maafin gw Yel, kali ini gw ga bisa bikin apa-apa buat nolong lu." Batin Rio

"Ya udah Pak kalau begitu saya permisi." Pamit Rio

Langkah Rio terlihat begitu tidak bersemangat pada saat keluar dari ruangan Kepsek itu. langkahnya terhenti saat namanya di panggil oleh seseorang.

"Pak Rio.,"

Rio menoleh kearah suara itu.

"Maaf pak, saya Sivia teman sekelas Gabriel."

"Ada apa ya.,???"

"Saya boleh minta alamat rumah bapak, saya mau ketemu sama Gabriel." Ujar Sivia ragu-ragu

"Ada apa kamu mau ketemu sama Gabriel, setau saya dia paling tidak suka kalau teman-temannya datang kerumah."

"Saya tau pak, tapi sebagai teman Gabriel saya mau bantu dia selama masa skorsingnya biar dia tetep bisa ngikutin pelajaran pak." Terang Sivia.

Rio sedikit heran dengan sikap Sivia tersebut, selama ini tak pernah ada seorang pun yang begitu peduli terhadap adiknya itu.

"Saya ga tau kalau adik saya ternyata punya teman yang begitu peduli terhadapnya. Padahal saya yakin dia pasti bersikap buruk sama kamu kan.???"

"Iya sih pak, tapi ga ada salahnya kan kalo kita saling membantu. Saya yakin kok pak sebetulnya Gabriel itu baik sama seperti bapak." Jawab Sivia

Mendengar hal ini Rio hanya bisa tersenyum, ia yakin dalam hatinya kalau Sivia memiliki perasaan khusus terhadap Gabriel.

"Gabriel beruntung punya teman sebaik kamu Sivia." Kata Rio, kemudian dia menyebutkan sebuah alamat dimana Gabriel dan dirinya tinggal selama ini.

"Terima kasih banyak pak." Jawab Sivia dengan nada yang begitu menggambarkan kegembiraan.

"Saya permisi pak." Pamit Sivia setelah mendapatkan apa yang dia minta dari Rio.

"Via.," Panggil Rio kepada salah satu muridnya itu.

Sivia kembali menengok kearah Rio yang masih berdiri beberapa langkah dari Sivia.

"Saya percaya sama kamu.," Ujar Rio seraya mengangkatkan ibu jarinya kearah Sivia. Sivia pun membalas dengan melakukan hal yang sama.

***

Sivia baru saja turun dari metromininya. Kini dia berada di depan sebuah jalan yang akan membawanya kearah rumah Gabriel. Sivia melangkahkan kakinya dengan begitu optimis.

"Gw bakal buktiin ke elu Yel, kalo ada seseorang yang peduli sama lu." Batin Sivia.

Sivia sempat bertanya kepada beberapa orang yang ditemuinya dijalan. Setelah beberapa lama Sivia mencari alamat yang di berikan oleh gurunya tadi dia belum juga menemukan rumah yang dimaksud. Sampai akhirnya dia bertemu dengan gadis manis yang sebaya dengannya. Sedang duduk di teras rumahnya yang sederhana.

"Maaf permisi mau tanya, kalo Jln. Manggis No. 23 sebelah mana ya .,???" Tanya Sivia dengan nada suara begitu sopan.

Namun gadis yang ditanya tadi malah mengernyitkan keningnya dan bertanya kepada dirinya sendiri.

"Mau apa cewe ini nyari rumah Iyel.,???"


 

Facebook: Ek Rkwt

Twitter: @rekscasillas

GUE DIANTARA MEREKA – PART 3

Dengan langkah gontai Gabriel meninggalkan pekuburan itu.

Pikirannya yang kosong kini tertuju pada salah satu makam yang terletak tidak begitu jauh dari makam kedua orang tuanya.

Terlihat seseorang yang sangat di kenal Gabriel sedang berdoa di depan makam itu.

Seseorang yang terlihat tak asing di mata Gabriel itu kini sedang menatap kearah Gabriel juga. Dia tersenyum, kemudian berdiri berjalan menuju kearah dimana Gabriel kini berdiri.

"Ternyata bukan dunia aja ya yang sempit itu.," Ujar Sivia kepada Gabriel.

Gabriel hanya tersenyum sinis mendengar kata-kata Sivia itu.

"Gw kesini ke makam nyokap gw,." Ujar Sivia tanpa ditanya oleh Gabriel

"Gw ga nanya dan gw ga peduli." Kata Gabriel

Sivia hanya tersenyum mendengar ucapan Gabriel barusan.

"Bibir lu ga nanya Yel.,tapi mata lu yang nanya.,gw liat tatapan lu yang penasaran kenapa gw ada disini.,iya kan.,???"

"Jangan sok tau lu."

"Gw ga sok tau.,kalo lu ga penasaran kenapa tadi pas lu liat gw, lu cuma berdiri, bukan pergi dan ga peduli seperti biasanya.,???"

Mendengar ucapan Sivia barusan Gabriel hanya diam saja. Dalam hatinya tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan Sivia itu memang benar. Dia memang bertanya-tanya kenapa Sivia ada di makam itu. dan sejurus kemudian dia tersadar, rasa penasarannya telah terjawab oleh kata-kata Sivia tadi, kalau Sivia berada disitu adalah untuk mengunjungi makam ibunya.

"Kenapa lu diem.,???bener kan apa yang gw bilang.,???"

Gabriel tak menanggapi omongan Sivia, dia hanya berlalu meninggalkan Sivia begitu saja tanpa permisi.

"Akhirnya lu kembali seperti diri lu Yel."

Ucapan Sivia ini membuat Gabriel menghentikan langkahnya.

"Apa maksud lu.,???"

"Lu ga sadar Yel.,sedetik tadi lu keluar dari diri lu yang arogan seperti ini. Tanpa lu sadar lu penasaran dengan apa yang gw lakuin disini, itu tandanya lu udah bisa peduli sama sekitar lu Yel.," Terang Sivia.

"Gw sama sekali ga ngerti maksud lu.," Gabriel kembali melanjutkan langkah kakinya.

"Tunggu Yel.," Sivia berlari mengikuti Gabriel, berusaha menyamakan langkahnya dengan Gabriel

"Ngapain lu ngikutin gw.,???" Tanya Gabriel

"Jangan sok tau lu.,gw ga ngikutin elu, ini kan jalan kearah rumah gw juga."

Gabriel tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya membiarkan Sivia tetap berjalan di sampingnya, tanpa mempedulikan apa saja yang Sivia bicarakan saat itu. meskipun mau tidak mau dia tetap bisa mendengar apa yang Sivia bicarakan.

"Lu tau ga Yel, pas nyokap gw meninggal tiga tahun lalu, gw ngerasa ga ada lagi orang yang bisa ngertiin gw, ga ada lagi orang yang bisa ngelindungin gw. Gw saat itu benar-benar terpuruk, gw ga mau makan, gw ga mau sekolah, gw ga mau ngapa-ngapain, tapi setelah lama gw pikir, ternyata gw hidup bukan sama nyokap doank, gw masih punya bokap, gw masih punya temen-temen, dan tanpa gw sadari mereka ternyata peduli sama gw., dan yang gw lakuin itu ternyata bikin mereka sedih Yel.,"

"Udah ngomongnya.,???" Tanya Gabriel dengan nada yang tetap terdengar sinis.

Sivia tak menjawab pertanyaan Gabriel barusan, dia hanya menatap mata Gabriel. Gabriel sendiri membalas tatapn Sivia itu dengan dingin.

"Gw tau Yel, dibalik sifat lu yang cuek dan dingin sama semua orang, sebetulnya lu hanya menutupi kesedihan lu doank.,"

"Kesedihan itu bukan buat di simpen Yel, tapi buat dibagi biar kesedihan itu ga memenuhi pikiran kita terus Yel."

Gabriel sama sekali tak bisa mengeluarkan suara sepatah kata pun. Dengan terpaksa omongan Sivia itu begitu menyindir hatinya, namun entah mengapa separuh dari hati Gabriel yang keras itu berpendapat bahwa apa yang dikatakan Sivia itu memang benar.

"Ya udah Yel.,sampai ketemu besok di sekolah ya.," Ternyata pada saat itu Sivia memang sudah sampai di mulut gang tempat dimana rumahnya berada.

Gabriel melanjutkan langkahnya setelah Sivia tak terlihat lagi di pandangannya. Pikirannya di penuhi oleh omongan Sivia tadi.

Gabriel menendang batu kerikil yang ada di depan kakinya.

"Aaarrrgghhh.,kenapa omongan dia tadi gw pikirin terus sih.,siapa dia ampe bikin gw begini.,gw ga peduli siapapun kecuali diri gw sendiri, karena orang lain pun memang ga ada yang peduli sama gw." Gabriel menggerutu sendiri.

***

Rumah berlantai dua itu kini sudah berada di depan mata Gabriel. Sebelum melangkah masuk, Gabriel sejenak memandang rumah itu.

"Tujuh belas taun gw tinggal dirumah ini, tapi gw ga pernah merasa hidup didalam sana, gw ga pernah ngerasa nyaman dirumah itu. gw ngerasa gw bukan siapa-siapa diantara mereka." Pikir Gabriel dalam hatinya.

Kemudian Gabriel melanjutkan niatnya memasuki rumahnya itu. Selangkah dia berada didalam rumah itu, terlihat adik bungsunya Bastian sedang memainkan mobil-mobilannya sendiri di lantai, terlihat disampingnya Shilla tertidur, mungkin karena terlalu capek menjaga Bastian terus-terusan. Kepala Gabriel celingukan ke seluruh bagian rumah itu, tidak terlihat sama sekali Rio disana.

"Mungkin dia lagi pergi sama Ify." Batinnya.

Gabriel duduk di sofa dengan pandangan mengarah ke adik bungsunya itu.

"Entahlah gw harus sayang atau harus benci sama elu Yan.," tanya Gabriel dalam hatinya.

"Gw belum bisa lupa kejadian dua tahun lalu yan.,lu yang nyebabin nyokap meninggal.,karena itu gw ga bisa sayang sama lu.," Gabriel berbicara dengan nada berbisik kepada Iyan, sedangkan Iyan sendiri yang diajak bicara oleh Gabriel tetap sibuk dengan mainannya.

Gabriel teringat kejadian dua tahun lalu, disaat ibunya meregang nyawa dalam proses kelahiran Bastian. Setelah Bastian berhasil di lahirkan, ibunya banyak kehilangan darah, dan dokter tak bisa menyelamatkan nyawa ibunya. Teringat peristiwa itu, rasa benci dan menyalahkan pada Iyan kembali timbul dalam hati Gabriel. Kemudian rasa peduli yang sedikit timbul terhadap Iyan saat itu kembali ia pendam dalam-dalam, dia berlalu begitu saja berjalan menuju kamarnya.

***

Pagi itu suasana rumah yang dihuni oleh empat orang kakak beradik itu sudah terlihat sibuk. Shilla yang sudah bersiap-siap untuk pergi sekolah, begitu juga Rio yang sudah rapi dengan PDHS nya, Bastian yang kini sudah berada si pangkuan ibu Ira seorang pengasuh yang di bayar Rio untuk menjaga adiknya selama kakak-kakaknya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sedangkan Gabriel sendiri dengan malas-malasan dia baru selesai keluar dari kamar mandinya. Walhasil dia telat sampai disekolahnya.

***

Tiba di ruangan kelasnya, Gabriel melihat ruangan itu sudah lengkap oleh semua murid dan seorang guru matematika bernama Bu Winda duduk di meja guru yang terletak di depan kelasnya.

Gabriel mengetuk pintu kelasnya, dan karena memang Gabriel baru terlambat sepuluh menit saja, Bu Winda memperbolehkan Gabriel untuk masuk dan mengikuti pelajarannya.

Gabriel berjalan memasuki ruangan kelas itu menuju tempat duduknya yang terletak di barisan paling belakang. Semua mata siswa yang ada di kelas itu tertuju padanya tak terkecuali dengan Sivia, namun Gabriel sama sekali tidak peduli, dia tetap berjalan sampai suara dari gurunya memanggil namanya.

"Gabriel, rapikan baju kamu.,"

Gabriel memang tidak pernah peduli dengan kerapihan bajunya. Dia selalu saja membiarkan seragam sekolahnya melambai-lambai diluar celana seragamnya, padahal salah satu peraturan di sekolah ini adalah harus selalu rapi.

Gabriel sama sekali tidak menghiraukan perkataan gurunya itu, dia hanya kembali berjalan menuju tempat duduknya.

Bu Winda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak didiknya yang satu ini. Dan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.

"Ya sudah, sekarang keluarkan selembar kertas, sesuai janji kita minggu kemarin kita adakan ulangan hari ini." Tanpa protes semua siswa langsung mengeluarkan kertas dan mengerjakan semua soal yang tertulis di selembar fotocopyan yang di bagikan oleh gurunya itu.

Baru setengah jam ulangan itu berjalan, Gabriel sudah berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan kearah meja dari gurunya, dan kemudian menyerahkan selembar kertas jawaban dari tangannya, tanpa bersuara sepatah kata pun.

"Kamu betul-betul sudah selesai Gabriel.," Tanya bu Winda.

"Ibu pikir saya akan memberikan kertas jawaban itu kalau saya belom nyelesaiin semuanya, saya ga sebodoh itu." Ujar Gabriel seraya langsung meninggalkan ruangan kelas itu.

"Anak itu, tidak sopan sekali.," Kata Bu Winda dalam hatinya, tapi tidak bisa dipungkiri Gabriel memang mempunyai kemampuan luar biasa dalam bidang matematika ini.

***

Gabriel kini sedang menyendiri di tempat favoritnya, yaitu di halaman belakang sekolahnya. Dimulutnya terlihat sebatang rokok yang sudah habis separuh.

Tanpa disadari Sivia kini sudah duduk disampingnya juga.

"Apa enaknya rokok sih Yel.,???"

Gabriel tidak menggubris pertanyaan Sivia itu. karena kesal tak mendapatkan respon dari Gabriel, kemudian Sivia mengambil bungkus rokok yang sedang di genggam oleh Gabriel dan mengeluarkan sebatang rokok, menyulutkan api dan kemudian menghisapnya. Belum sampai asap rokok itu sampai di kerongkongannya, rasa gatal menyelimuti tenggorokan Sivia. Dia langsung terbatuk, lalu mematikan rokok itu dengan mengijak-nginjaknya.

"Udah tau lu sekarang apa enaknya ngerokok.,???" Pertanyaan Gabriel itu terdengar begitu sinis. Lalu Gabriel bangkit, meninggalkan Sivia yang masih sibuk dengan batuknya.

Sivia yang melihat Gabriel meninggalkan dirinya, ikut bangkit dan mengikuti kemana Gabriel melangkah.

Gabriel kini berjalan di koridor sekolah, menuju kelasnya. Namun sampai di depan sebuah kelas, ia merasa kakinya dijegal oleh seseorang yang sedang berdiri disana. Dia mengalihkan pandangan kearah orang yang menjegalnya tadi, terlihat Cakka disana dengan senyuman sinisnya. Tanpa membuang waktu, Gabriel sudah dalam posisi yang siap untuk menonjok Cakka, namun satu suara menghentikan niatnya itu.


 

Facebook: Ek Rkwt

Twitter: @rekscasillas