Welcome to My Blog and My Life

Stay Tune!:]

Kamis, 26 Juli 2012

GUE DIANTARA MEREKA – PART 6


 

Setelah Gabriel tidak terlihat lagi oleh pandangan Sivia, Sivia pun tersenyum.

"Dugaan gw bener kan Yel. Pada dasarnya lu tetep cowo biasa yang ga tega ngeliat seorang cewe nangis."

Tanpa disadari Sivia dan Gabriel sepasang mata menatap mereka dengan perasaan tidak suka.

"Kok Iyel bisa bersikap baik sama cewe itu, apa hubungan mereka ya.,???padahal selama gw kenal sama Iyel, jangankan megang pipi gw, megang tangan gw aja ga pernah kalo bukan ga sengaja."

"Nanti aja deh balik kerja gw tanya sama dia." Pikir Gadis itu yang ternyata Agni.

***

Metromini berwarna orange itu terlihat sesak oleh penumpang. Salah satu penumpang metromini itu tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Dia meraba-raba pipinya sendiri. Senyum simpul kembali menghiasi bibirnya.

"Iyel.,Iyel.,Iyel.," Gumamnya

"Perlahan tapi gw yakin pasti gw bisa masuk ke dalam kehidupan lu Yel, bukan buat ngacauin semuanya Yel, tapi gw harap gw bisa bantu lu buat dapetin hak lu yang selama ini hilang Yel, gw bakal bantu lu biar lu lebih di hargai orang,"

Tekad Sivia begitu kuat, seiring dengan perasaan sayangnya kepada Gabriel.

***

Di daerah selatan kota Jakarta, seorang laki-laki muda dengan motor Vega R nya berhenti di sebuah tempat kost wanita yang sering di datanginya. Laki-laki muda itu turun dari motornya, membuka helm yang menyembunyikan wajahnya. Kemudian berjalan lesu menuju salah satu pintu kamar kost yang berjejer mengelilingi halaman tempat kost itu.

Setelah dia mengetuk beberapa kali akhirnya pintu kamar kost itu pun terbuka. Seorang gadis muda dengan hanya memakai celana training dan kaos oblong berwarna kuning terlihat di ambang pintu kamar kost itu dengan senyuman terkembang di bibirnya.

"Rio.," Ujar Gadis itu

"Kamu gimana Fy, masih berasa ga enak badan.,???" Tanya Rio kepada kekasihnya yang saat itu tidak masuk kerja dikarenakan sakit.

"Sebetulnya aku tadi pagi cuma pusing doank sih, mungkin terlalu banyak begadang dikejar deadline." Ujar Ify, yang selama dua tahun ini bekerja sebagai columnis di salah satu kantor majalah ternama.

"Masuk dulu Yo.," Ajak Ify

"Makanya meskipun banyak kerjaan jangan lupa istirahat sama makan donk." Kata Rio

"Kamu sendiri kok keliatan lesu gitu, kenapa.,???" Tanya Ify yang melihat wajah Rio yang terlihat begitu kusut.

"Iyel Fy.," Ujar Rio dengan mimic wajah yang begitu tidak bersemangat.

"Kenapa lagi sama Gabriel.,???"

"Dia kena skors Fy."

"Kok bisa.,???"

"Ternyata kebiasaan merokoknya suka dia lakuin di sekolah juga" Terang Rio

"Aku bingung Fy, gimana caranya bicara sama dia, biar dia ngerti kalo aku tuh peduli sama dia, aku ga suka ngeliat dia seperti ini," Terang Rio lagi

"Kamu harus lebih sabar menghadapi dia Yo.,"

"Tapi percuma Fy, dia udah terlanjur benci sama aku"

"Dia ga benci sama kamu Yo, dia hanya kecewa dengan situasi yang ada selama ini, aku yakin kok kalo kamu lebih sabar dia akan mengerti semuanya. Ini semua juga bukan salah kamu kan Yo,"

"Aku tau Fy ini bukan salah aku, tapi aku udah ga tahan Fy, tanggung jawab yang aku pegang terlalu besar. Aku ga sanggup Fy. Dengan Iyan yang masih kecil, Shilla ade perempuan aku satu-satunya yang masih butuh perhatian lebih, dan sekarang Iyel.,.," Ujar Rio dengan tatapannya yang kini terlihat kosong.

"Kadang terlintas di pikiran aku buat certain semuanya sama Iyel Fy, semua rahasia itu, biar Iyel ngerti."

"Tapi itu kan ga menjamin semua masalah bakal selesai Yo, malah ada kemungkinan bakal timbul masalah baru.,"

"Kamu bener juga sih Fy" Sela Rio seraya menarik nafas yang begitu panjang menggambarkan betapa beratnya beban yang dipikul oleh Rio.

"Aku juga kadang jadi merasa bersalah sama kamu Fy.," Kata Rio lagi

"Aku.???,kenapa.,???" Tanya Ify heran

"Hubungan kita udah cukup lama kan Fy, aku juga udah cukup serius sama hubungan kita, tapi gara-gara masalah aku, semuanya jadi stuck ga ada perkembangannya."

"Aku ngerti kok Yo, aku juga ga akan maksa kamu, selama kamu masih ada disamping aku, aku juga akan tetap ada disamping kamu," Jawab Ify seraya menggenggam tangan Rio.

"Ma kasih ya Fy"

Saling pengertian yang terjalin diantara mereka berdua memang begitu kuat, tak heran kalo hubungan mereka yang telah terbina hampir tiga tahun itu selalu baik-baik saja.

***

Disalah satu jalanan perumahan itu Gabriel terlihat berjalan dengan pikiran yang melayang entah kemana. Setelah apa yang baru saja terjadi, Gabriel merasa aneh dengan dirinya sendiri.

Gabriel memasuki rumahnya, terlihat Shilla yang menunggu dirinya.

"Gimana bang.,Abang udah minta maaf sama kak Via.,???"

"Udah.," Jawab Gabriel singkat

"Trus.,???"

"Ga ada terusnya udah itu doank, bawel amat sih. Urusin aja tuh si Iyan, jangan ampe dia nangis, BERISIK!!.," Ujar Gabriel yang langsung pergi menuju kamar tidurnya.

Gabriel mengunci rapat pintu kamarnya. Kini dia duduk di tepian tempat tidurnya. Menatap kedua belah tangannya. Meraba-raba tangannya sendiri, tangan yang tadi menghapus air mata Sivia. Gabriel begitu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.

"Kenapa gw seperti ini.,???" Tanya Gabriel kepada dirinya sendiri.

"Kenapa dia harus memaksa masuk kedalam kehidupan gw, padahal kehidupan gw ga menarik sama sekali." Pikir Gabriel tadi

"Kenapa gw harus merasa peduli sama elu.,???Kenapa harus ada perasaan bersalah pada saat ngeliat lu nangis."

Setelah sekian lama Gabriel merenung didalam kamarnya itu, Gabriel tetap tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan dirinya.

"Aaaaarrrrggghhh.,kenapa lu bikin gw ga kenal sama diri gw sendiri Via.," Gabriel geram dengan sedikit perubahan yang terjadi pada dirinya.

Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya Gabriel. Dengan gerakan yang dipaksakan Gabriel membuka pintu kamarnya. Terlihat Rio disana. Rio yang baru saja kembali dari tempatnya Ify, langsung menemui Gabriel berusaha untuk lebih dekat dengan adiknya itu sesuai dengan yang disarankan oleh Ify kekasihnya.

"Boleh gw masuk.,???"

Gabriel tak berkata apa-apa, dia hanya membuka pintu kamarnya lebih lebar menandakan bahwa dia memperbolehkan Rio untuk masuk.

Keduanya kini sama-sama duduk di tepi tempat tidur Gabriel.

"Yel, gw minta maaf." Ujar Rio dengan nada yang begitu halus

"Maaf buat apa" Gabriel dengan nada dingin seperti biasanya.

"Maaf karena gw ga bisa berbuat apa-apa soal skorsing lu"

Gabriel tersenyum sinis mendengar omongan Rio tersebut

"Lu ga perlu minta maaf,, terserah mereka mau lakuin apa aja sama gw, lu ga usah peduli, gw sendiri aja ga peduli. Dan itu juga bukan urusan lu."

"Itu urusan gw Yel, karena lu adek gw."

"Gw harus gimana yel, biar lu percaya kalo gw itu peduli dan sayang sama lu." Terang Rio

"Peduli kata lu, sayang kata lu, kalo lu peduli ma sayang sama gw, kenapa lu selalu diem aja pada saat bokap ngerendahin gw, kenapa lu diem aja pada saat itu.,???lu tau perasaan gw saat itu Bang.,sakit.," Terlihat raut kecewa di wajahnya Gabriel saat itu. Raut wajah yang sama sekali belum pernah dilihat oleh Rio sebelumnya.

"Pada saat itu gw sama sekali ga bisa berbuat apa-apa Yel, gw ga punya nyali buat ngelawan bokap. Gw bukan elu yang pemberani Yel." Terang Rio

Sebuah keajaiban tercipta dirumah itu. Percakapan yang selama ini tidak mungkin terjadi kini terjadi juga. Seorang kakak beradik yang sekiranya saling membenci kini sedang berbicara dari hati ke hati.

"Lu tau Yel, sebetulnya kadang gw ngiri sama lu.,"

Gabriel menoleh kearah kakanya dengan perasaan heran

"Gw ngiri karena lu bisa ngelakuin apa aja yang lu mau, sedangkan gw.,gw selalu harus ngikutin apa yang bokap mau."

Gabriel sama sekali ga percaya dengan apa yang diucapkan Rio barusan.

"Terserah lu percaya atau engga Yel, tapi itu yang gw rasain sebenernya." Terang Rio seraya membalas tatapan Gabriel yang kini tertuju pada matanya.

"Jadi please Yel.,tolong jangan benci gw." Tatapan Rio kini begitu memelas.

"Gw ga benci sama elu bang. Tapi setiap gw ngeliat elu, selalu mengingatkan gw sama perlakuan bokap ke gw.,dan itu belom bisa gw lupain bang." Terang Gabriel dan tak lama kemudian meninggalkan Rio sendiri yang masih tertegun oleh ucapan Gabriel barusan.

***

Gabriel kembali termenung, namun kini dia duduk di lapangan tempat biasanya dia bersama Agni. Meskipun malam sudah agak larut, namun lapangan yang sepi itu begitu terang oleh lampu sorot yang berada di salah satu pojok lapangan itu.

Gabriel dikejutkan oleh kedatangan Agni yang tiba-tiba duduk disampingnya.

"Lu kenapa Yel.,???" Tanya Agni tiba-tiba

Gabriel melihat kearah Agni sekilas,

"Ga kenapa-kenapa kok." Jawab Gabriel

"Cerita donk Yel sama gw, biasanya lu selalu cerita semuanya sama Gw"

"Ga ada yang perlu gw certain sama lu kok Ag.,"

"Lu kenapa sih Yel, lu berubah tau ga.,"

"Apa sih lu ngomong ga jelas."

"Lu berubah Yel, sekarang lu ga pernah cerita apa-apa sama gw, apa karena kehadiran cewe itu ya.,???" Pertanyaan Agni ini betul-betul mengejutkan Gabriel.

"Maksud lu cewe apa sih.,siapa.,???"

"Cewe yang tadi dateng kerumah lu, yang lu hapus air matanya." Ujar Agni dengan suara yang sedikit tercekat.

"Lu tuh apan sih Ag, gw lagi pusing, please deh jangan bikin gw tambah pusing" Teriak Gabriel yang saat itu langsung berdiri berniat meninggalkan Agni.

Namun baru saja beberapa langkah Gabriel berjalan, langkah Gabriel terpaksa berhenti karena dia mendengar kalimat dari Agni yang tak pernah dia sangka sebelumnya.

"Gw suka sama lu Yel.,gw sayang sama elu.,!!!"


 

Facebook: Ek Rkwt

Twitter: @rekscasillas

GUE DIANTARA MEREKA – PART 5


 

"Maaf permisi mau tanya, kalo Jln. Manggis No. 23 sebelah mana ya .,???" Tanya Sivia dengan nada suara begitu sopan.

Namun gadis yang ditanya tadi malah mengernyitkan keningnya dan bertanya kepada dirinya sendiri.

"Mau apa cewe ini nyari rumah Iyel.,???"

"Kamu muridnya Abang Rio ya,.???" Tanya Agni

"jadi kamu tau alamat rumah ini.,???bisa minta tolong anterin saya kesana, kalo engga arahnya kemana ya.,???" Tanya Sivia lagi.

"Kamu beneran muridnya Bang Rio, apa mau les ditempatnya Bang Rio ya.,???" Tanya Agni lagi

"Aku memang sekolah di SMA Pak Rio aku juga muridnya dia, tapi sebetulnya aku temen sekelasnya Gabriel.," Jawab Sivia

"Sejak kapan Iyel punya temen cewe selain gw" Batin Agni

"Temennya Iyel.,???"

"Iya, memang kenapa.,???"

"Ga pa pa sih cuma aneh aja, setau gw Iyel ga punya temen deket." Jawab Agni dengan perasaan tidak suka terhadap Sivia. Agni sedikit tidak rela apabila ada orang lain yang dekat dengan Gabriel selain dirinya. Karena memang perasaan Agni kepada Gabriel lebih dari seorang teman.

"Jadi rumahnya sebelah mana ya.,???" Tanya Sivia lagi.,

"Lu tinggal lurus aja, nanti di depan ada belokan, lu belok aja, rumahnya cat biru." Terang Agni dengan sedikit tidak rela memberitahukan letak dari rumah Gabriel.

"Ma kasih ya.," Jawab Sivia

"Kalo boleh tau ada urusan apa lu kerumah Iyel."

"Urusan sekolah" Jawab Sivia singkat, kemudian tanpa membuang waktu lagi dia langsung menuju kearah yang ditunjukan oleh Agni tadi.

Sedangkan Agni masih berdiri di teras rumahnya dengan perasaan yang bingung.

"Sejak kapan Iyel peduli dengan urusan sekolah.,???" Agni bergumam kepada dirinya sendiri. Perasaan cemburu sedikit tumbuh dalam hatinya.

***

Sivia kini telah berdiri di depan sebuah rumah bercat biru, berlantai dua, dengan alamat yang sesuai dengan yang diberikan gurunya tadi. Terdengar bunyi tangis anak kecil dari dalam rumah itu. Dengan pasti Sivia melangkahkan kakinya ke dalam pelataran rumah tersebut. Dia berdiri di depan pintunya kemudian memencet bel yang ada di bagian samping pintu tersebut.

Tidak sampai satu menit pintu rumah itu terbuka, terlihat seorang gadis manis berkulit putih yang tampak lebih muda dari Sivia. Dia adalah Shilla adik dari Rio dan Gabriel.

"Permisi, benar ini rumahnya Pak Rio.,???" Tanya Sivia ragu-ragu kepada gadis muda itu.

"Iya betul, tapi Abang Rio nya belum pulang, tadi sih dia bilang mau mampir kerumah temennya dulu," Jawab Shilla.

"Sebetulnya aku nyari Gabriel, dia ada.,???"

"Abang Iyel.,???" Tanya Shilla heran.

"Iya Iyel, dia ada kan.,???"

"Abang belom pulang juga," Jawab Shilla masih dalam keheranannya.

"Aku boleh nungggu dia.,???"

"Boleh kok, ayo masuk kak." Ajak Shilla

"Kakak mau minum apa.,???"

"Ga usah, kita ngobrol-ngobrol aja, nama kamu siapa.,???"

"Nama aku Shilla, nama kakak siapa???"

"Nama ku Sivia. Kalo itu siapa.,???" Sivia menunjuk kepada anak kecil yang sedang sibuk dengan botol susunya, terlihat matanya berkaca-kaca sisa tangisannya tadi.

"Oh itu adik kita yang paling kecil namanya Bastian." Terang Shilla

"Kakak kok bisa temenan sama Abang Iyel.,???" Akhirnya Shilla mngeluarkan pertanyaan yang dari setadi memenuhi pikirannya

"Sebetulnya aku ga tau sih temenan apa engga sama abang kamu itu, aku sih pengen temennan sama dia, tapi abang kamu itu aneh." Jawab Sivia sambil tersenyum

"Kok kakak mau temenan sama abang Iyel, kata orang kan dia orangnya kasar, ga baik sama orang."

"Iya sih, tapi kakak ngerasanya sebetulnya Iyel itu orang yang baik, buktinya kamu sama Pak Rio baik kan.???

"Sebetulnya abang emang baik kak, baik banget malah, dari kecil dulu dia orang yang paling sering belain aku kalo aku di godain sama temen-temen aku. Aku sayang banget sama abang Iyel, kalo boleh aku bilang, aku lebih sayang bang Iyel daripada bang Rio, tapi kesian bang Iyel dari dulu suka dimarahin terus sama papa, ga kaya sama bang Rio, papa selalu baik mulu." Shilla betcerita panjang lebar tanpa canggung-canggung, dia merasa begitu nyaman menceritakan semuanya kepada Sivia.

"Dulu waktu abang SMP sebenernya dia selalu jadi juara umum di sekolahnya, tapi bang Iyel diem aja, cuma aku yang tau, bang Iyel cerita semuanya sama aku."

"Kenapa dia ga cerita sama yang lain.,???" Tanya Sivia

"Kata abang percuma, ga akan ada yang peduli. Papa selalu lebih peduli sama bang Rio, padahal bang Rio cuma jadi juara dua aja di kelasnya. Papa juga ga pernah mau ngambil rapot atau datang ke sekolah bang Iyel. Tapi kalo ke sekolah bang Rio, papa semangat banget. Kesian kan bang Iyel.," Terang Shilla dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jadi ini Yel kenapa lu bersikap ga peduli sama orang, karena lu merasa ga ada orang yang peduli sama lu, lu ga adil Yel, lu ga bisa samain setiap orang kaya bokap lu." Batin Sivia.

"Kak Via.,kak Via.," Panggil Shilla, karena terlihat Sivia kini sibuk dengan lamunannya sendiri.

"Oh iya kenapa Shil???"

"Ga pa pa, cuma tadi Shilla liat ka Via ngelamun gitu."

"Kak Via lagi mikirin abang kamu Shil.,"

"Kakak suka ya sama bang Iyel.,???"

"Maksud kamu,???"

"Kakak cantik, kakak juga baik, aku suka kalo bang Iyel sama kakak, pasti bang Iyel jadi baik deh."

"Abang kamu memang baik kok Shil," Jawab Sivia dengan senyum manisnya.

"Trus kamu sendiri yang ngurusin ade kamu itu.,???"

"Engga sih, kalo pagi ada bu Ira yang jagain, tapi kalo siang gantian kalo ga sama aku ya sama bang Rio."

"Loh Iyel engga.,???"

"Abang Iyel ga suka sama Iyan."

"Kok bisa, kan adiknya sendiri, sama kamu aja dia sayang???" Tanya Via heran

"Soalnya Bang Iyel selalu nganggep kalo Iyan yang nyebabin mama meninggal, soalnya mama meninggal pas ngelahirin Iyan. Bang Iyel itu selain deket sama aku, deket banget juga sama mama, karena cuma mama yang selalu belain Bang Iyel dari papa, jadi pas mama meninggal ga ada lagi yang bisa belain bang iyel, sampai setaun kemarin akhirnya papa meninggal juga, tapi Bang Iyel belom bisa maafin papa, soalnya sampai papa meninggal pun tetep ga mau ditemenin sama Bang Iyel, bang Iyel ngerasa sakit hati banget."

"Abang Iyel juga ga terlalu deket sama Bang Rio, mereka kalo ketemu berantem mulu. Bang Iyel ngerasa Bang Rio selalu jadi anak emas papa, dan dari kecil dia selalu dibanding-bandingkan sama Bang Rio. Papa selalu nganggep bang Rio itu lebih baik daripada Bang Iyel. Papa kaya ga sayang gitu sama Bang Iyel. Aku jadi suka kesian sama bang Iyel yang selalu disalah-salahin sama papa."

Dari percakapannya dengan Shilla siang itu banyak sekali yang Sivia dapat mengenai Gabriel, lambat laun Sivia pun mulai mengerti kenapa Gabriel memiliki tingkah laku seperti sekarang.

"Ma kasih ya Shil.," Ujar Sivia

"Ma kasih kenapa kak.,???"

"Ma kasih karena kamu udah cerita banyak soal abang kamu, aku jadi banyak tau soal abang kamu, aku janji deh kalo kamu mau bantu aku, kita berdua bisa bikin abang kamu jadi lebih baik dari sekarang, gimana.,???" Tawar Sivia

"Aku mau kak, aku mau abang bisa berubah. Biar dia baik nya bukan cuma sama aku atau kaka Agni doank."

"Agni.,siapa.,???"

"Dia temen abang dari kecil, kak Agni juga baik sih sebetulnya, tapi dia ga pernah berusaha ngerubah abang jadi lebih baik, menurut dia abang Iyel udah cukup baik dengan sikapnya sekarang, karena abang emang baik sama dia."

"Abang kamu suka kali sama Agni."

"Kakak cemburu ya.,???"

"Apa sih kamu ini." wajah Sivia terasa memanas di goda Shilla seperti itu.

"Kak Agni emang suka sama abang, dia pernah cerita sama aku, tapi pas aku tanya sama abang dia bilang cuma nganggep kak Agni temen doank."

"Ooooh.," Jawaban Sivia singkat, tanpa di sadari ada sedikit kelegaan di hatinya ketika mendengar penjelasan Shilla tadi.

"Aku seneng ngobrol sama kamu Shil,"

"Aku juga seneng kok kak, aku seneng bang Iyel punya temen yang baik kaya kakak."

Terjalin keakraban diantara mereka berdua.

"Ngapain lu disini.,???" Tiba-tiba suara Gabriel mengagetkan Sivia dan Shilla.

"Abang udah balik.,???" Tanya Shilla

"Kak Via dari tadi nunggu abang." Ujar Shilla lagi

Gabriel masih berdiri di depan mereka dengan tatapan yang dingin dan sedikit memancarkan kemarahan. Gabriel sama sekali tidak menghiraukan perkataan Shilla.

"Gw tanya ngapain lu disini.,???"

"Abang kenapa sih dateng-dateng langsung marah-marah" Tanya Shilla

"Diem lu, gw nanya ama dia, ngapain dia disini."

"Gw cuma pengen maen aja kok Yel, sapa tau lu butuh catetan selama lu di skors." Jawab Sivia

"Apa.,??? Abang kena skors.,???" Tanya Shilla

Gabriel yang ditanya tidak menjawab pertanyaan adiknya itu.

"Lu tuh kenapa sih kerjaannya cuma nyampurin urusan orang doank, jangan sok peduli deh, gw ga butuh lu tolongin, gw ga butuh lu belain, lu ga tau apa-apa soal gw, lu jangan coba-coba deketin keluarga gw, dan lu jangan coba-coba deket sama gw, ngerti ga sih lu, mending lu urusin aja urusan LOE SENDIRI" Kata-kata Gabriel tajam dan beberapa kalimat terakhirnya di ucapkan dengan nada yang cukup keras dan tegas.

Sivia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, air matanya kini mulai mengalir dari ujung matanya. Sejurus kemudian Sivia berlari meninggalkan Shilla dan Gabriel keluar dari rumahnya Gabriel.

"Abang ini kenapa sih, kak Via kan ga ada maksud jelek dateng kesini, tadi kita ngobrol banyak dan aku ngerasa kak Via baik kok, kak Via itu peduli ama abang, tapi abang malah menyakiti hati kak Via, abang tuh punya perasaan dikit dong bang."

"Gw cuma ga suka dia ngurusin urusan gw, ga ada hubungannya sama dia juga kan.," Jawab Iyel

"Tapi kan bisa ngomongnya ga usah kasar gitu. Baik-baik aja, abang bisa baik sama Shilla, kenapa abang ga bisa baik sama kak Via juga, dia juga baik kan sama abang.," Ucapan Shilla itu sedikit membuat Gabriel luluh. Shilla memang selalu bisa membuat Gabriel mendengarkan kata-katanya.

"Trus sekarang gw harus gimana.,???" Tanya Gabriel

"Abang harus minta maaf sama kak Via."

"Apa ???minta maaf,??? ENGGAK!!!"

"Abang Please.," Shilla memasang wajah memelasnya

Akhirnya Gabriel pun berlari meninggalkan Shilla, untuk mengejar Sivia.

Dilihatnya Sivia kini sedang berjalan beberapa langkah di depan Gabriel. Gabriel tahu Sivia sedang menangis.

"Via.," Panggil Gabriel.

Sivia menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah Gabriel. Terlihat air matanya yang masih mengalir di pipinya.

"Gw minta maaf."

"Apa.,???" Tanya Via

"Gw minta maaf soal yang tadi dirumah gw, gw ga maksud bwt lu sakit hati."

Gabriel mendekati Sivia, tiba-tiba Gabriel melakukan sesuatu hal yang tidak di sangka oleh Sivia. Gabriel menghapus air mata Sivia dengan kedua belah tangannya, meskipun masih dengan ekspresi dinginnya.

"Gw ga suka ngeliat cewe nangis karena gw." Setelah itu Gabriel langsung meninggalkan Sivia begitu saja.

Setelah Gabriel tidak terlihat lagi oleh pandangan Sivia, Sivia pun tersenyum.

"Dugaan gw bener kan Yel. Pada dasarnya lu tetep cowo biasa yang ga tega ngeliat seorang cewe nangis."


 

Facebook: Ek Rkwt

Twitter: @rekscasillas