Welcome to My Blog and My Life

Stay Tune!:]

Jumat, 13 Juli 2012

CINTA KEDUA PART 24

Halo~ Nggak ngaret kan? Selamat membacaJ


 


 

PART 24


 


 

Rio berjalan beriringan dengan Gabriel. Mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Sivia di rawat. Tidak ada obrolan yang mengaung. Mereka fokus pada pikiran masing-masing. Rio lebih tertarik memikirkan bagaimana jika dirinya dan Cakka bertemu nanti. Apakah Cakka akan menertawakannya? Apa mungkin Cakka berpikiran Rio terlalu berlebihan karena telah menangisi Sivia yang ternyata lebih memilih Cakka? Kepalanya serasa ingin meledak jika ternyata memang itu yang dipikirkan Cakka. Tapi? Kalau memang begitu adanya, mengapa Cakka menyuruhnya untuk menjenguk Sivia? Apa sebenarnya yang Cakka inginkan? Bukankah akan lebih baik baginya jika Rio menjauh dari Sivia? Tapi ini?


 

"Yo!"


 

Gabriel menyenggol lengan Rio. Mereka berdua berhenti di depan sebuah kamar. Rio menoleh. "Kenapa Yel?"


 

"201. Ini kamarnya. Lo masuk gih. Gantian aja jenguknya."


 

Rio terlihat menimbang-nimbang. "Cakka mana?"


 

"Nggak tau gue. Lo masuk duluan aja."


 

"Sendirian? Nggak ah! Bareng lo aja Yel." nadanya seperti memohon.


 

"Tapi..." Gabriel menghembuskan nafas berat. "Yasudahlah..."


 

Mereka melangkahkan kaki untuk masuk ke kamar itu. Rio mengetuk pintunya tiga kali dengan pelan. Namun tidak ada jawaban. Gabriel mengangkat kedua bahunya. Lalu dia menunjuk kenop pintu dengan dagunya. Rio mengerti lalu mengangguk. Dia membuka pintu itu, dan......


 


 

***

    


 

Jantungnya serasa ingin loncat sekarang juga. Pintu itu sudah terbuka. Namun tangannya masih memegang kenop pintu ruangan itu. Entah mengapa kepalanya terasa panas. Keringatnya sedikit membasahi kepalanya. Matanya menangkap pemandangan yang menurutnya buruk. Buruk sekali. Apa maksudnya menyuruh dia kesini jika hanya melihat Cakka bermesraan dengan Sivia? Apa? Apa yang diinginkan Cakka? Apa dia sengaja memamerkan itu di depan Rio? Memegang tangan Sivia dengan lembut? Apa Cakka sengaja? Menatap wajah Sivia dengan seenaknya? Apa Cakka ingin membuatnya cemburu? Untuk apa? Amarah memuncak di dadanya. Ingin rasanya menghempaskan tangan Cakka sekarang juga lalu menonjoknya hingga babak belur.


 

Namun sejenak dia sadar akan satu hal. Siapa dirinya sekarang? Pantaskah dia menaungi rasa cemburu di dasar hatinya untuk Sivia? Atas dasar apa? Bukankah dia bukan siapa-siapa sekarang? Hanya sekedar mantan. Yang sangat sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Sivia. Perasaannya hancur. Bayang-bayang ciuman itu kembali bersarang di kepalanya. Dia bingung mengapa kejadian itu melekat di kepalanya dan tidak ingin pergi sampai saat ini.


 

Rio meremas kenop pintu itu dengan kuat. Membuang energi negatif yang menyerang dirinya sekarang. Dia benar-benar kalah. Kalah telak oleh sahabatnya sendiri.


 


 

***


 


 

Gabriel berdiri mematung di samping Rio. Apa yang dilihatnya juga cukup membuatnya sedikit tegang. Sejak kapan Cakka memandang seorang perempuan seperti itu? Sejak kapan Cakka memegang tangan seorang perempuan terlebih dahulu? Setahunya, Cakka tidak akan memegang tangan perempuan kecuali perempuan itu sendiri yang mengenggamnya lebih dahulu.


 

Gabriel berdiri takjub. Seserius itu kah perkataan Cakka kemarin? Dia akan menjaga Sivia? Awalnya Gabriel tidak percaya. Dia menganggapnya seperti angin lalu. Tapi sepertinya kepercayaan itu sedikit demi sedikit mencuat di hatinya. Dia turut senang jika Cakka sudah akan benar-benar berubah. Tapi tunggu! Gabriel melupakan sesuatu. Oh Tuhan! Bagaimana bisa dia melupakan itu? Perasaan senangnya hilang seketika. Gabriel menelan ludahnya. Dia menoleh perlahan. Takut-takut dia memandang Rio. Sahabatnya itu berdiri menunduk. Hatinya terenyuh. Gabriel turut prihatin. Dia bisa melihat bagaimana gurat kekecewaan yang amat mendalam di diri Rio. Dia bisa mengerti. Namun apa yang bisa dilakukannya? Gabriel kembali melihat objek pertamanya. Disana Cakka sudah memandangnya dengan kening berkerut. Gabriel menghela napas berat. Mengingat masalah sahabat-sahabatnya yang tidak begitu jauh dengan dirinya dan Alvin, kepalanya serasa ingin pecah sekarang juga. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain... pasrah.


 


 

***


 


 

"Gabriel? Rio?"


 

Cakka berdiri meninggalkan Sivia yang masih terkulai lemas. Kakinya melangkahkan dia sampai ke hadapan kedua sahabatnya itu. Dia sedikit kaget dengan kedatangan Gabriel dan Rio yang secara tiba-tiba. Atau mungkin karena dia terlalu serius memikirkan hidupnya sehingga dia tak sadar jika yang ditunggunya sudah berdiri sejak beberapa detik yang lalu dan memandanginya dengan tatapan nanar.


 

"Kok kalian berdiri disini sih? Bukannya langsung masuk aja."


 

Gabriel merutuki Cakka. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu kepada dirinya dan Rio. Sebenarnya dia sih nggak masalah. Tapi, menurut Gabriel, pertanyaan itu adalah masalah besar bagi Rio.


 

"Nggak enak lah."


 

Benar apa yang dipikirkannya. Gabriel menoleh ke arah Rio. Cakka mengernyit heran. "Maksudnya, Yo?"


 

Rio membuang muka. "Apa menurut lo gue pantes ngerusak momen kemesraan lo sama dia?"


 

Gabriel menelan ludahnya lagi. Dia sudah tau hal ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Dimana seseorang akan merasa terpukul dengan cinta pertamanya yang kini telah menjadi gadis sahabatnya. Pengkhianatan memang. Dan Gabriel yakin, itulah yang saat ini selalu melayang-layang bebas di pikiran Rio. Gabriel sedikit gemetar. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


 

"Hah?"


 

Sesaat Cakka terdiam. Momen kemesraan? Maksudnya? Ohya! Cakka mengingat-ingat hal yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Dimana dia menggenggam tangan Sivia dan memandangnya sayu. Yah. Cakka mengerti sekarang. Rio terlalu cepat mengambil kesimpulan. Seandainya dia tahu kalau Cakka sama sekali tidak ada niat untuk membuatnya cemburu. Dan seandainya juga Rio tahu kalau sebenarnya tidak terjadi apa-apa antara Cakka dan Sivia. Dia pasti lebih ringan menjelaskan ini semua. Tapi hal ini berbeda...


 

"Sorry, gue nggak nyadar kalau kalian sudah datang." Cakka mencoba menenangkan Rio yang sepertinya mulai sinis terhadapnya. Dia sudah mencoba mencari jawaban yang pas namun hanya kata-kata tadi yang bisa diucapkannya.


 

Rio menatap Cakka. Matanya berapi-api. "Bilang aja lo sengaja akting kayak gitu di depan gue. Lo sengaja nyuruh gue dateng kesini, trus lo sengaja mesra-mesraan sama Via dan akhirnya gue ngeliat itu semua. Itu kan maksud lo?" suaranya mulai meninggi.


 

Cakka memicingan matanya. Dia terkejut dengan perlakuan Rio yang tiba-tiba melabraknya dengan kata-kata yang sama sekali tidak mengenakkan hati. "Yo? Bukan gitu maksud gue!"


 

"Lo pikir gue bego? Lo pasti sengaja lakuin itu semua biar lo bisa ketawain gue kan Cak? Itu kan tujuan lo? Lo emang pinter Cak! Ternyata bener dugaan gue."


 

Cakka mengerutkan keningnya. Dia sudah menyiapkan kalimat-kalimat untuk membalas argumen dari Rio. Sebenarnya dia sama sekali tidak ingin ini terjadi. Dia tidak ingin ada perpecahan antara dirinya dengan Rio. Tapi mau bagaimana lagi? Matanya sempat melirik Gabriel sekilas. Ketegangan sangat terlihat di wajahnya yang mulai pucat. Cakka kembali menatap Rio. Mata sinis Rio masih terpampang di hadapannya. Cakka sempat tersenyum kecil.


 

"Asal lo tau ya, gue sama sekali nggak ada niat sengaja buat lo cemburu! Lagian juga, lo kenapa marah sama gue? Sadar lah Yo. Seharusnya lo nggak berhak marah lah. Terserah gue juga mau ngapain sama Sivia. Toh dia sudah jadi pacar gue dan itu semua bukan urusan lo. Iya nggak?" ujarnya tegas namun tetap santai.


 

Rio terhenyak. Dia terdiam. Tidak ada balasan yang keluar dari bibirnya yang mulai bergetar. Namun matanya masih menatap panas ke arah Cakka. Tangannya sudah mengepal. Bersiap untuk menghantam Cakka tadi. Namun disaat dia mendengar kalimat Cakka, dia mengurungkan niat itu. Benar apa yang dikatakan oleh Cakka. Dia bukan siapa-siapa untuk Sivia. Sebenarnya ini sudah dipikirkannya tadi. Namun entah kenapa, emosinya malah semakin besar dan akhirnya yang tidak diinginkannya pun terjadi sudah. Dia menunduk malu. Malu terhadap dirinya sendiri. Tangannya sudah di lemaskan. Sakit itu kembali menyerangnya.


 

"Sorry, Cak."


 

Kemudian hening. Tidak ada yang hendak membuka suara lagi. Baik Cakka maupun Rio. Tidak ada lagi adu mulut diantara mereka. Hanya hembusan nafas mereka bertiga yang menyembul diantara keheningan yang ada.


 

Gabriel menyandarkan dirinya di tembok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Apa yang terjadi di antara mereka? Apa persahabatan yang sudah mereka bangun selama dua tahun belakangan ini, akan hancur begitu saja hanya karena cinta? Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki ini semua? Gabriel mencoba mencari jawaban itu namun dia tidak bisa menemukannya. Bagaimana dia bisa? Sedangkan sampai saat ini dia juga masih bertengkar dengan Alvin karena masalah yang sama. Hanya saja Rio dan Cakka belum menyadari hal itu.


 

"Kak? Uhuk... Kak?"


 

Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara. Gabriel berlari cepat meninggalkan Cakka dan Rio yang masih berdiri mematung di depan pintu. Gabriel kemudian berdiri di sebelah tiang infus Sivia. Dengan telaten dia membenarkan poni-poni Sivia yang sedikit berantakan. Dia tak peduli siapa yang dipanggil Sivia dengan sebutan 'Kak'. Karena selama ini Sivia memanggil dirinya tidak ada embel-embel 'Kak'. Dengan kata lain, hanya ada dua jawaban. Antara 'Kak' Rio dan 'Kak' Cakka. Namun dia tidak mau memusingkan hal itu. Agak tidak penting baginya.


 

"Vi, ini gue Iyel. Syukurlah lo udah sadar."


 

Gabriel tersenyum melihat Sivia yang sudah mulai mengerjapkan matanya perlahan. Dihapusnya sekelabat pikiran-pikiran tentang konflik persahabatannya. Dia meraih tangan Sivia dan lalu menggenggamnya sama dengan yang Cakka lakukan beberapa waktu lalu.


 

Sementara Rio masih tetap pada posisi semula. Dia tak ingin beranjak dari tempatnya. Melihat Sivia sudah sadar saja hatinya sedikit tenang. Apalagi seandainya dia bisa berjalan menghampiri Sivia dan memeluknya dengan sayang. Ah! Khayalannya terlalu tinggi. Rio melupakan pikiran anehnya tersebut. Dia menghembuskan nafas berat lalu melihat ke arah Cakka yang dalam diam sudah melangkah meninggalkannya.


 

Cakka berjalan pelan lalu berdiri di sebelah Gabriel. Dia melihat keadaan Sivia. Seulas senyum terukir di wajahnya yang sedikit mengeluarkan keringat akibat adu mulut dengan Rio tadi. Gabriel menoleh ke arahnya. Mereka saling bertukar pikiran melalu batin. Lalu sekilas mereka sama-sama mengangguk.


 

Gabriel berjalan menjauhi Sivia dan Cakka. Dia menghampiri Rio yang masih saja berdiri mematung di pintu ruangan itu.


 

"Gue mau keluar sebentar, Yo."


 

Seakan tidak butuh tanggapan, Gabriel langsung saja keluar dari ruangan itu dan lalu menghilang dibalik tikungan koridor rumah sakit itu. Rio sedikit bingung dengan perlakuan Gabriel. Dia kemudian ingin berbalik kembali ke ruangan itu untuk berpamitan kepada Cakka yang tak disadarinya sudah berdiri di hadapannya.


 

"Cakka?"


 

"Gue nggak tau siapa 'Kak' yang Sivia maksud tadi dan siapa yang dia butuhin sekarang. Entah gue, atau lo. Yang jelas, gue mau lo sama Sivia nuntasin masalah lo berdua. Gue nggak mau ada kebencian diantara kita. Gue kasih kesempatan buat lo ngomong berdua sama Sivia."


 

***


 


 

Kepalanya pusing. Apa yang sudah dilakukannya? Mengapa rasa sakit itu sungguh membiarkan kita dalam hawa emosi yang begitu besar? Dia sadar dirinya lelaki. Tapi apa itu berarti dia tidak boleh menangis? Walaupun di dalam hati? Apa tak boleh?


 

Rio membenarkan semua perkataan Cakka. Tidak sewajarnya dia membiarkan rasa cemburu itu mengalir di dadanya. Sementara dia sudah memiliki kekasih sendiri. Dia sadar itu. Tapi mengapa dia tidak bisa sedikit pun melupakan Sivia? Yang kini sudah benar-benar menjadi milik Cakka? Mengapa? Toh Sivia sudah tidak menganggapnya sebagai siapa-siapa lagi.


 

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Rio bisa melihat Gabriel dan Cakka berdiri di samping Sivia yang sepertinya sudah sadarkan diri. Sebenarnya dia juga sangat-sangat ingin berada disana. Tapi entah mengapa kakinya enggan untuk melangkah.


 

Inilah yang ditakutkannya sejak tadi. Berada disini membuatnya bingung harus berbuat apa. Sebenarnya mudah saja. Dia pergi kesini untuk menjenguk. Dan mengapa sekarang dia hanya berdiri di depan pintu yang terbuka? Dirinya merasa bodoh.


 

"Gue mau keluar sebentar, Yo."


 

Rio sedikit kaget dengan teguran Gabriel. Dia memerhatikan Gabriel yang melintas di depannya tanpa sedikit pun menoleh kepadanya. Rio mengekor di belakang Gabriel. Dia bisa melihat bagaimana Gabriel menghilang di tikungan koridor rumah sakit itu. Rio menggelengkan kepalanya pelan. Apa maksud Gabriel meninggalkan dirinya dengan Cakka di ruangan itu? Bukankah ada Gabriel saja mereka adu mulut. Apalagi tidak ada Gabriel?


 

Rio mengangkat kedua bahunya pelan. Lalu berdehem. Dia ingin pamit pulang saja. Dia tak ingin kalau-kalau Cakka memamerkan kemesraan lagi padanya. Cukup sudah yang dilihatnya beberapa waktu lalu. Dia muak. Rio melangkahkan kakinya kembali ke ruangan itu. Dan betapa kagetnya dia ketika berbalik, tubuh Cakka sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celananya.


 

"Cakka?"


 

"Gue nggak tau siapa 'Kak' yang Sivia maksud tadi dan siapa yang dia butuhin sekarang. Entah gue, atau lo. Yang jelas, gue mau lo sama Sivia nuntasin masalah lo berdua. Gue nggak mau ada kebencian diantara kita. Gue kasih kesempatan buat lo ngomong berdua sama Sivia."


 

Rio tercengang.


 

"Dan satu lagi. Gue sama sekali nggak ada niat buat bikin lo cemburu Yo."


 

"Cak?"


 

Cakka tersenyum sekilas. Lalu menepuk-nepuk pelan pundak Rio. "Gue mau ke bawah. Bayar administrasi. Titip Sivia sebentar ya."


 


 

***


 


 

Sivia diam membisu. Badannya sudah agak mendingan. Infusan darah yang mengalir ke dalam tubuhnya memberikan dirinya sedikit tambahan energi. Namun, melihat laki-laki yang sudah hampir setengah jam lalu berdiri menunduk di hadapannya membuat hatinya terkoyak. Apa yang terjadi pada cinta pertamanya itu? Bebarapa hari lalu, Sivia mendengar kabar dari Gabriel bahwa Rio sudah dua hari tidak masuk sekolah. Itu terjadi setelah Rio melihat dengan jelas bagaimana Sivia mencium Cakka di tengah lapangan waktu itu. Sivia begitu khawatir. Setiap bertemu dengan Gabriel, dia selalu menanyakan kabar Rio. Namun hanya gelengan kepala yang di dapatnya. Sekarang, laki-laki yang selalu mengisi otaknya sudah berada di hadapannya. Lalu mengapa lidahnya kelu untuk mengeluarkan kata-kata? Dia mencari kalimat-kalimat yang pas untuk di lontarkan, namun otaknya sama sekali tidak menemukannya.


 

"Vi?"


 

Sivia sedikit merinding mendengar suara Rio yang agak gemetar. "Hm?"


 

Rio mengangkat kepalanya pelan. Matanya bertemu dengan mata Sivia. Selang beberapa waktu, Sivia membuang muka. Dia tak ingin terlalu lama memandang Rio. Dia takut perasaannya luluh. Dia takut perasaan sayang itu kembali mencuat keras di hatinya. Walaupun dia tahu, belum sepenuhnya dia gembok hatinya dari segala kenangan yang Rio berikan. Masih ada yang tertinggal. Yah, setidaknya, hati itu mengakuinya. Dia kembali menoleh ke arah Rio yang sepertinya sudah mulai berbicara. Jantungnya tidak bisa berpacu dengan normal.


 

"Setelah aku pikir-pikir, ini semua salah Vi. Aku nggak mau hidup dalam rasa bersalah seperti ini. Aku harus perjuangin ini semua. Aku, kamu, Ify, Cakka. Ini semua salah."


 

Sivia mengerutkan keningnya. Salah? Apanya yang salah? Bukankah tidak ada yang salah? Rio sudah dengan Ify. Dan dirinya sudah dengan Cakka. Walaupun aslinya, dia masih sendiri. Sivia sedikit tidak mengerti dengan kalimat yang Rio lontarkan.


 

"Maksudnya?"


 

Rio menghela nafas panjang. "Vi, aku tahu kita sama-sama punya cinta. Sudah saatnya kita perjuangin cinta kita Vi. Kita harus coba!"


 

Sivia menganga. Kepalanya berdenyut. Jantungnya semakin berpacu. Apa mau Rio sebenarnya? Bukankah sudah berulang kali dijelaskan kalau sudah tidak ada apa-apa lagi diantara mereka berdua? Lalu mengapa Rio seperti ini? Itu sama saja membuat Sivia kembali mengorek luka dalam tentang bayangan Rio. Luka yang belakangan ini sudah dia coba kubur dalam-dalam. Hatinya sakit. Dia juga ingin bersama Rio. Namun dia tak bisa. Sampai kapan pun sudah tidak akan bisa.


 

Sivia ingin berbicara namun sepertinya Rio sudah memanggilnya lebih dahulu. Sivia menoleh. Mata sendu itu menatapnya nanar. Dia tahu Rio sakit. Namun apakah Rio tahu bahwa dirinya lebih sakit?


 

"Vi? Kamu mau kan jadi..."


 

Sivia menggigit bibir bawahnya. Sepertinya meninggalkan dia dan Rio disini adalah sebuah kesalahan besar. Dia merutuki Cakka yang dengan seenaknya pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun padanya. Dia takut. Takut mendengar apa yang akan dikatakan Rio sesaat lagi. Dia ingin menangis. Hatinya sudah meraung-raung keras. Namun disaat pikirannya kacau, kebingungan melanda Sivia manakala matanya menangkap tangan Rio yang terjulur ke hadapannya. Sekilas dia kembali menatap Rio.


 

Rio menutup matanya sejenak lalu membukanya kembali. Dia tersenyum kecut. "Kamu-mau-kan-jadi.....teman-ku?"


 

HAH? APA?


 

Sivia terhenyak. Dalam satu helaan nafas Rio mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak terduga olehnya. Hatinya berteriak keras sambil bertanya-tanya.


 

"Kak?"


 

Sivia bisa melihat dengan jelas bagaimana Rio mengangguk. Air mata sedikit mengumpul di sudut matanya. Dia tak mengerti jalan pikiran Rio.


 

"Kak? Aku.. Aku--"


 

"--Aku bersumpah akan belajar mencintai perempuan lain. Walaupun aku nggak yakin bisa atau nggak."


 

Rio menarik tangan kanan Sivia dan menggengggamnya. "Jadi, mulai sekarang, kita berteman kan?"


 


 

***


 


 

Sivia membuka matanya. Sinaran matahari menyembul dari tirai jendela yang sedikit terbuka. Dia mengucek pelan matanya. Jam dindingnya menunjukkan pukul enam pagi. Sivia lalu bergegas menyiapkan peralatan sekolahnya dan segera mandi.


 

Tidak perlu waktu lama bagi Sivia untuk menyiapkan itu semua. Kini seragam sekolahnya sudah ia kenakan. Sivia berdiri menghadap cermin riasnya. Wajahnya sudah tidak terlalu pucat seperti dua hari yang lalu. Dia berdehem pelan. Lalu memoles pipinya dengan bedak agar wajah pucatnya yang masih sedikit nampak menjadi tidak terlihat. Rambutnya ia biarkan tergerai. Dia tersenyum sekilas lalu menyelampirkan tasnya. Dia keluar dari kamar menuju dapur.


 

Matanya menjelajah. Ray duduk di salah satu bangku sambil melahap roti cokelat buatan pembantunya. Sivia tersenyum sumringah lalu duduk di sebelah bangku yang Ray tempati.


 

"Loh? Kak Sivia? Mau sekolah ya? Memangnya sudah sehat?"


 

Sivia mengerutkan keningnya. "Iyalah. Masa kakak di rumah terus. Nggak betah. Nggak ada kamu di rumah. Sepi."


 

Ray tersenyum jahil. "Sepi karena nggak ada Ray, atau karena nggak ada Kak Cakka? Hahaha."


 

"Hah?" Sivia mengernyit heran.


 

Ray melirik Sivia sambil meneguk habis susu yang ada di gelasnya. Dia menaruh kembali gelas kosong yang tadinya berisikan susu malang itu. Lalu benar-benar duduk menghadap Sivia.


 

"Kak Sivia ini nggak usah me-nge-lak deh! Kak Cakka udah cerita kalau kak Sivia udah jadian sama Kak Cakka. Jadi? Congratulations ya Kak!"


 

Sivia tertawa hambar. Ulah Cakka yang bagaimana lagi yang harus dihadapinya sekarang? Dengan adiknya sendiri saja dia bersandiwara. Sebenarnya apa maunya laki-laki itu? Sivia sudah tidak sabar ingin melabrak Cakka sekarang juga. Tanpa permisi, dia langsung berdiri meninggalkan Ray dan bibi-nya yang senyum-senyum menggoda.


 

Sekilas Sivia mendengar godaan Ray. "Pagi-pagi udah pacaran aja nih Kak? Haha." Namun Sivia tidak menggubrisnya. Bibirnya sudah komat-kamit mengumpat nama Cakka. Dia berlari menaiki tangga dan berhasil sampai di depan pintu kamar penjahat itu. Tanpa mengetuknya, Sivia sudah memutar kenop pintu itu dan betapa kagetnya dia melihat Cakka juga sedang membuka pintu itu dari dalam.


 

"Sivia? Ada apa?"


 

Sivia melongo. Tumben banget tuh orang jam segini sudah mandi. Tumbenan juga nggak sarapan di kamar. Tapi melihat seragam Cakka yang masih setia dengan image berantakan, Sivia jadi menepis semua keheranan yang tadi sempat memenuhi kepalanya.


 

"Heh! Ada apa ada apa! Elo tuh ya! Ngapain pake acara bilang ke Ray kalau kita pacaran?" nadanya sedikit dia kecilkan. Takut terdengar oleh Ray di dapur. Dia tahu Cakka pasti akan marah kalau melanggar kehendaknya.


 

"Lah? Kan emang?"


 

"Apaan sih nggak jelas! Sebenarnya buat apa lo rahasiain ini ke Ray? Ini kan nggak penting. Lagian lo juga sih mintanya aneh-aneh. Apa gunanya coba jadiin gue pacar pura-pura lo didepan satu sekolah? Kayak nggak ada cewek lain aja deh di sekolah."


 

"Bawel bener sih lo?"


 

"Alasan lo nggak jelas sih. Aneh banget. Setelah gue pikir mateng-mateng, nggak ada gunanya juga kita pacaran pura-pura kayak gini tau!"


 

Cakka menatap Sivia. Tangannya disilangkan di depan dada. Lalu dia tersenyum. "Setelah gue pikir-pikir lebih mateng juga, suatu saat pasti ada gunanya."


 

Sivia menganga. "Hah? Maksudnya?"


 

"Nggak." Cakka membuang muka. Sambil tersenyum. Namun senyum nya bukan senyum kelicikan yang dulu hampir setiap hari didapatkan oleh Sivia. Senyum itu tidak bisa diartikan oleh Sivia. Dia mendengus kesal. Cakka sudah kembali ke sifat asalnya. Jutek. Ketus.


 

"Ngapain lo senyum-senyum? Aneh banget muka lo kalo senyum."


 

"Sewot aja lo!"


 

Cakka menatap Sivia lagi. Melihat sikap gadis di hadapannya ini, membuat dirinya tidak bisa menahan perasaan aneh yang selalu menghantuinya mulai beberapa hari lalu.


 

"Oh iya, gue seneng akhirnya lo udah balik kaya dulu lagi."


 

Sivia mengernyit heran.


 

"Udah nggak usah nanya 'maksudnya?' lagi." Cakka seakan tahu apa yang akan di lontarkan dari mulut Sivia.


 

Untuk sesaat Sivia tercengang. Cakka benar. Sivia memang akan menanyakan maksud dari kalimat aneh yang keluar dari mulut Cakka tadi. Lucu juga, pikirnya. Sivia menahan tawa. Dia tidak ingin tertawa di depan manusia setengah hantu itu. Jaga image dong.


 

"Kak Cakkaaa? Kak Siviaaa? Udah belom pacarannyaaa? Ray mau pergi sekolah nih! Mau cari ceweee! Eh? Salah Kak! Mau cari ilmuuuu!"


 

Sivia mendengar jelas teriakan Ray dari bawah. Kakinya sudah berhasil melangkah menghampiri Ray di bawah kalau saja tangannya tidak ditahan oleh Cakka. Dia berbalik. Sivia menatap tangan Cakka yang memegang tangannya. Lalu matanya menoleh ke arah Cakka.


 

"Kali ini, ulah gue nggak bakal buat lo rugi kok Siv. Suatu saat, lo pasti bilang terima kasih ke gue."


 

Cakka lalu melepaskan tangannya dan berlalu melintas di depan Sivia yang berdiri cengo. Sejujurnya dia masih sangat tidak mengerti tentang penjelasan yang diutarakan Cakka. Namun dia tidak ingin memusingkan hal itu. Sivia mengangkat kedua bahunya lali segera berjalan mengikuti langkah Cakka tadi.


 


 

***


 


 

Hai~ Sudah sampai part 24 belum tamat-tamat juga hahaha! Nggak tau ini gimana. Saya usahakan tamat sebelum bulan September deh insyaallah (?) Mumpung nganggur 4 bulan nyahaha *pamer.


 

Thanks ya yang masih setia baca CK ini-__- Likesnya di part kemaren menurun 20 jadinya 63 wkwk. Tandanya sudah banyak yang nggak tertarik lagi sama ini. Maka dari itu pengen cepet-cepet tamat biar terbebas dari kewajiban nyahaha. Thanks juga yang sudah nagih2-__-Love you all:3


 

Cerbung CK ini juga bisa dibaca di http:www//resaechaa.blogspot.com

Follow me on twitter @Resaechaa


 


 

CINTA KEDUA PART 23

Halo! Pasti lupa sama cerita sebelumnya kan ya? Cek di notes aja yak. Gak pake kronologi baru kok jadi gampang dicari :)

Selamat membacaa~


 


 

PART 23


 


 

AROMA rumah sakit tercium jelas. Bau obat-obatan daritadi sangat mengganggu pernafasannya. Jujur dia tidak menyukai rumah sakit. Berada di sini sudah cukup untuk membuat kepalanya pusing. Namun hal itu bisa sedikit diatasinya. Yang lebih banyak memenuhi volume pikirannya kini adalah seorang gadis yang sedari tadi berada di ruangan putih itu. Sudah lebih dari lima belas menit dia berjalan mondar-mandir di depan pintu yang berada di hadapannya. Dia gelisah. Mengapa sampai detik ini dokter belum juga memberikan kabar tentang keadaan Sivia.


 

"Lo bisa tenang dikit nggak sih Kak? Kalau lo begitu malah bikin gue tambah khawatir juga tau nggak!"


 

Cakka melihat ke arah adik semata wayangnya. Sejenak dia berpikir. Kalau saja Ray tahu ini semua adalah ulah nya, bukan hal yang tidak mungkin Ray akan menonjok dirinya lagi sampai babak belur seperti malam itu. Cakka menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu dia menandaskan tubuhnya di bangku yang berhadapan dengan pintu dimana Sivia masih ditangani oleh dokter.


 

"Lagian, tumben banget lo kayak gini?"


 

Cakka menoleh. "Maksud lo?"


 

"Ya tumben banget lo khawatir sama Kak Sivia. Aneh aja."


 

Cakka menghembuskan nafas berat. Dia mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ray. Diketuk-ketukkan jarinya ke meja kecil yang berada di sebelahnya. Dia bingung harus mulai menjelaskan dari mana.


 

"Nggak tau deh. Gue aja bingung. Kenapa ya?"


 

Kali ini giliran Ray yang menoleh. "Dasar aneh! Lo itu—"


 

Adu argumen kakak beradik ini berhenti manakala pintu itu terbuka dan keluarlah seorang dokter bersama suster perawat dari ruangan itu. Cakka dan Ray langsung berdiri menghambur menghampiri si dokter.


 

"Bagaimana keadaannya, Dok?"


 

"Kak Sivia kenapa, Dok?"


 

"Dia baik-baik aja kan, Dok?"


 

"Kak Sivia sudah sadar, Dok?"


 

Dokter itu membenarkan letak kacamatanya. Dia berdehem pelan. Lalu matanya mengarah ke Cakka dan Ray secara bergantian. Lalu tersenyum kecil.


 

"Untung kalian membawa gadis itu dengan cepat. Kalau tidak—"


 

"—kalau tidak kenapa, Dok? Kak Sivia kenapa? Ya Tuhan!"


 

"Ray! Bisa diam nggak sih?" kali ini Cakka yang menegur adiknya.


 

Dokter itu memasukkan tangannya ke kantung jas putih yang dikenakannya. Lalu menghembuskan nafas berat. "Kalau tidak, keadaan gadis itu akan parah dan semakin susah untuk ditolong."


 

"Maksud dokter?"


 

"Jadi, dia mempunyai penyakit sesak nafas. Ditambah lagi, darahnya turun drastis menjadi 50 Hb. Sepertinya dia terlalu menyimpan banyak beban. Sesak nafasnya kumat bukan karena keletihan. Banyak masalah yang dipendamnya. Menurut pengamatan saya, ya seperti itu."


 

Ray menyenderkan tubuhnya di tembok. Tangannya mengepal. Dia sendiri membenarkan pendapat dokter itu.


 

Cakka merasa terpukul. Andai saja dia tahu kalau masa lalu Sivia begitu kelam dibanding dirinya, ini semua tidak akan terjadi.


 

"Tapi tenang saja. Sekarang keadaannya sudah sedikit membaik. Oh ya, saya sarankan, lain kali tolong bujuk Sivia untuk tidak memendam suatu masalah. Karena itu dapat membahayakan dirinya sendiri. Saya permisi."


 


 

***


 


 

Sudah berkali-kali Gabriel memencet bel rumah itu. Namun, sedikit pun dia tidak mendapatkan respon dari pemilik rumah. Gabriel sempat putus asa. Diraihnya ponsel di kantung celananya. Sama sekali tidak ada pesan. Dia membuka kontak, mencari satu nama dan dengan gesit dia menekan tombol 'call' di ponselnya.


 

"Please angkat dong angkat..."


 

Kali ini dia benar-benar putus asa. Yang dihubunginya sama sekali tidak menjawab. Apa yang harus dilakukannya? Gabriel mengelap keringat yang mengucur dari dahinya. Sudah setengah jam yang lalu dia berdiri memencet bel rumah itu sambil terus mengecek ponsel nya. Dia berniat untuk pergi saja dan kembali lagi nanti. Namun ketika dia berbalik, orang yang ditunggu nya sejak tadi muncul bersama mobil jazz nya. Segera saja dihampirinya orang itu.


 

"Gabriel? Ngapain lo disini?"


 

"Ya Tuhan Rio! Gue hubungin lo daritadi tau nggak! Lo kemana aja sih? Gue udah setengah jam disini!"


 

"Gue habis jalan sama Ify."


 

"APA?" Gabriel sempat kaget.


 

"He? Kenapa lo Yel?"


 

Rio menatapnya bingung. Gabriel menggelengkan kepalanya lalu menarik Rio duduk di kursi pelataran rumah Rio. Rio menuruti saja perintah sahabatnya. Gabriel duduk di kursi sebelah.


 

"Jadi gini Yo, sebenarnya gue bingung juga mau ngejelasin ini semua darimana. Tapi gue mesti kasih tau lo tentang ini."


 

Gabriel bisa melihat gurat kebingungan di wajah Rio.


 

"Tentang apa Yel?"


 

"Intinya gue kesini mau kabarin lo kalau barusan gue dapat kabar dari Cakka. Sivia masuk rumah sakit, Yo. Sesak nafasnya kumat. Dan dia anemia."


 

"APA?" Kali ini giliran Rio yang kaget.


 


 

***


 


 

Sudah lebih dari tiga jam Rio bersama dengan Ify menghabiskan waktu di mall. Rio sengaja meminta Ify untuk menemaninya berbelanja keperluan rumah karena Angel sedang ada panggilan menyanyi di luar kota. Kepada siapa lagi Rio meminta tolong kalau bukan kepada Ify.


 

"Thanks ya, Fy."


 

"Sama-sama Kak. Aku seneng kok bisa bantu Kakak."


 

Rio bisa melihat jelas kalau Ify sedang tersenyum. Dia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Ify.


 

"Sudah sampai nih Fy."


 

"Nggak mampir dulu Kak? Kakak nggak pernah mampir loh."


 

"Hah? Emm boleh deh."


 

Ify menggandeng tangan Rio masuk menuju rumahnya—rumah Sivia yang dirampas oleh orang tuanya—. Ify membuka kenop pintu dan melangkahlah mereka berdua ke dalam. Rio melihat ke sekeliling rumah. Ini adalah kedua kalinya dia bertandang ke rumah besar ini. Sudah banyak yang berubah. Memorinya kembali terputar pada saat orang tuanya dan almarhum orang tua Sivia mengadakan makan malam bersama. Dari awal pertemuan itulah dia menyukai Sivia. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu, Rio sempat mengajak Sivia berbicara di halaman depan rumah. Orang tua mereka masih mengobrol tentang bisnis di dalam. Saat itu juga Rio tidak mau membuang-buang waktu. Biar saja orang bilang ini cinta monyet atau apa, yang jelas dia berhasil mendapatkan hati Sivia malam itu.


 

"Kak Rio? Kak?"


 

Rio menghentikan laju memorinya berjalan. Roh nya kembali berhadapan dengan Ify. Namun bayang-bayang Sivia tidak bisa terhapus dari kepalanya.


 

"Kenapa Fy?"


 

"Kakak kenapa? Daritadi aku panggilin kok nggak denger-denger sih? Kakak mau minum apa?"


 

"Eh itu? Nggak usah repot-repot deh, Fy. Aku mau pulang juga. Aku baru ingat kalau handphone aku ketinggalan. Perasaanku agak nggak enak gini. Kenapa ya?"


 

Rio menggaruk belakang telinganya. Semakin lama dia berada disini, semakin jelas terputar memorinya bersama Sivia. Setiap sudut rumah itu menggambarkan jelas sosok Sivia yang sangat ingin dihindarinya untuk beberapa saat. Mengingat Sivia sudah bersama laki-laki lain sekarang.


 

"Yah kakak gimana si? Tadi katanya mau mampir? Kok tiba-tiba nggak jadi?"


 

"Sorry ya Fy. Handphone aku ketinggalan sih. Aku lupa. Lain kali aku pasti mampir ke sini lagi kok. Aku pulang dulu ya. Bye!"


 

Dengan cepat Rio berjalan kembali menuju mobilnya. Sempat dia mendengar Ify memanggil-manggil namanya. Namun Rio tidak menghiraukannya. Entah mengapa raganya ingin sekali segera pulang ke rumah. Dilirik jam yang melingkar di tangannya. Jam sepuluh pas. Pantas saja jalanan sudah agak sepi sehingga dia bisa melaju kencang menembus gelapnya malam.


 

"Kenapa perasaan gue nggak enak gini yah? Apa mungkin Kak Angel nelfonin gue? Ah kenapa juga handphone gue bisa ketinggalan."


 

Rio menyalakan radio di mobilnya. Mencoba menepis perasaan gusar dalam hatinya. Rio menekan tombol random untuk mencari frekuensi otomatis. Setelah dapat, dia menyaringkan volumenya.


 

"Selamat malam aja buat elo elo semua yang lagi di rumah, yang lagi jalan bareng pacar, atau yang lagi di mobil, jangan kemana-mana ya! Gue bakalan balik lagi setelah lo denger lagu galau yang satu ini. Buat yang lagi galau, nikmatin aja masa-masa galau lo! Semoga terhibur!"


 

Rio sempat merasa tersinggung. Penyiar itu seakan-akan menyindir dirinya. Dia melirik radionya sinis. Seakan-akan lirikannya itu sampai ke penyiarnya. Tapi setelah dipikir-pikir, padahal kenal saja tidak. Lalu mengapa Rio emosi seperti ini? Kenapa juga dia merasa tersinggung? Apa dia galau? Siapa yang digalaukannya? Ify kah? Rasanya tidak. Sebagian dirinya menolak untuk menjawab pertanyaan itu. Karena pasti yang muncul bukan nama Ify. Kalau bukan Ify, sudah dapat dipastikan jawabannya adalah Sivia. Ah Rio memukul-mukul kepalanya pelan. Berharap Sivia pergi jauh-jauh dari otaknya. Dia tak mau terus-menerus mengingat nama itu. Tapi, yang sangat disayangkan, mengapa dia sama sekali tidak bisa melupakannya?


 

Aku berjalan di dalam kesendirian

Aku mencoba tak mengingatmu dan mengenangmu


 

Rio terhenyak. Mengapa harus lagu ini yang dia dengar? Bukankah itu semakin membuat rasa kehilangannya menjadi-jadi? Apa tidak ada lagu lain? Dari sekian banyak lagu, mengapa lagu ini yang dia dengar? Ah tidak! Buat apa dia marah? Bukankah dia sedang belajar melupakan Sivia? Yah! Dia menahan tangannya untuk tidak mematikan radio itu.


 

Aku t'lah hancur lebih dari berkeping-keping

Karena cintaku karena rasaku yang tulus padamu


 

Hatinya ter-enyuh. Namun.....Tidak! Dia tidak galau! Yah penyiar itu mungkin sedang menyinggung seseorang disana. Bukan dia. Yah Rio berusaha santai. Namun, tetap saja wajah Sivia masih terbayang. Rio merutuki radio-nya.


 

Begitu dalamnya aku terjatuh

Dalam kesalahan rasa ini


 

"Ah sial! Gue kok jadi kayak orang bego begini sih!"


 

Rio memukul stir mobilnya. Menumpahkan rasa kesalnya. Dia tak mengerti dengan semua ini. Dia bertemu dengan Sivia. Lalu dipisahkan. Sekarang? Mereka dipertemukan lagi. Tapi mengapa Sivia tidak sendiri? Mengapa Sivia harus bersama sahabatnya? Dan kenapa harus Cakka yang dipilihnya? Rio membiarkan otaknya untuk membahas Sivia sebentar.


 

Jujur aku tak sanggup

Aku tak bisa

Aku tak mampu dan aku tertatih

Semua yang pernah kita lew—


 

Rio mematikan radio-nya. Dia tidak suka mendengar lagu ini. Hanya akan membuat memori masa lalunya terputar dan itu akan semakin susah untuk mencoba merelakan Sivia. Walau dia tahu, dia tidak akan bisa melupakan Sivia.


 

Rio menghentikan mobilnya tepat di pelataran rumahnya. Keningnya berkerut melihat motor Gabriel terparkir asal di depan mobilnya. Matanya kemudian beralih ke depan pintu rumahnya. Benar saja. Gabriel berdiri di sana sambil menelpon seeseorang. Rio keluar dari mobilnya.


 

"Gabriel? Ngapain lo disini?"


 

Yang ditegur langsung berbalik menghampiri dirinya dengan cepat. Dia memasukkan ponselnya ke kantung celananya.


 

"Ya Tuhan Rio! Gue hubungin lo daritadi tau nggak! Lo kemana aja sih? Gue udah setengah jam disini!"


 

"Gue habis jalan sama Ify."


 

"APA?" Gabriel sempat kaget.


 

"He? Kenapa lo Yel?"


 

Rio melihat Gabriel menggeleng pelan. Lalu Gabriel menariknya untuk duduk di kursi depan rumahnya. Kemudian Gabriel ikut duduk di sampingnya. Rio menatapnya bingung. Mengapa Gabriel tidak menghubunginya saja? Ah! Dia baru ingat! Handphone nya tertinggal. Jelas saja Gabriel langsung datang ke rumahnya. Sepertinya ada hal yang sangat penting. Kalau tidak penting, ngapain juga Gabriel rela datang ke rumah Rio malam-malam begini? Apa ini ada hubungannya dengan perasaan yang tidak mengenakkan yang sejak beberapa menit lalu menyerangnya? Entahlah..


 

"Jadi gini Yo, sebenarnya gue bingung juga mau ngejelasin ini semua darimana. Tapi gue mesti kasih tau lo tentang ini."


 

Rio terlihat tambah bingung.


 

"Tentang apa Yel?"


 

"Intinya gue kesini mau ngabarin lo kalau barusan gue dapat kabar dari Cakka. Sivia masuk rumah sakit, Yo. Sesak nafasnya kumat. Dan dia anemia."


 

"APA?" kali ini giliran Rio yang kaget.


 

Pantas saja dia ingin cepat-cepat pulang. Ternyata batinnya dengan batin Sivia masih saling terhubung. Sivia masuk rumah sakit. Jelas saja dia merasa gelisah sekali ketika sampai di rumah Ify. Rio bergegas berdiri meninggalkan Gabriel. Namun, beberapa pertanyaan muncul di benaknya. Rio mengurungkan niatnya lalu berbalik kembali menghadap ke arah Gabriel.


 

Rio mengerutkan keningnya. Dia baru sadar satu hal. Mengapa Gabriel bisa tahu kalau dia sangat mengkhawatirkan Sivia? Lalu? Mengapa juga Gabriel mengabari keadaan Sivia kepadanya? Bukankah hanya dia dan Sivia yang mengetahui hubungan itu? Dia tidak pernah menceritakan hal tentang Sivia kepada siapapun termasuk Gabriel. Lalu ini?


 

"Yel? Elo?"


 

"Iya. Gue tau apa yang mau lo tanyain. Mendingan lo duduk dulu. Biar gue jelasin semuanya."


 

Rio berpikir sebentar, lalu mengangguk cepat. Kemudian dia menuruti perintah Gabriel untuk duduk kembali.


 

"Gue kenal Sivia sudah hampir setahun yang lalu. Lo tau kan kalau gue di adopsi dari panti? Dari sanalah gue sama Sivia kenal pertama kali." Gabriel mengulang penjelasannya terhadap Cakka kemarin.


 

"Panti? Maksud lo? Selama ini, Sivia tinggal di panti?"


 

"Iya. Emangnya dia nggak cerita ke elo Yo pas lo berdua ketemu?"


 

"Enggak. Dia cuman cerita kalau dia tinggal di tempat yang layak. Gue seneng banget waktu ketemu dia lagi. Jadi gue nggak sempet nanya ini itu Yel. Eh emangnya Sivia cerita ke lo ya?"


 

"Semua! Dia cerita semuanya Yo. Gue deket banget sama dia."


 

"Berarti, lo tau dong kenapa Sivia pindah sekolah di SMA Putra Bangsa? Kenapa juga Sivia pacaran sama Cakka? Terus, lo juga pasti tau dong kenapa Sivia pergi dari rumahnya? Dan kenapa juga dia tinggal di panti?"


 

Gabriel menelan air ludahnya. Begitu banyak pertanyaan dari Rio. Apa dia tidak salah jika menceritakan semua privasi Sivia itu pada Rio? Apa dia berhak?


 

"Gue tahu semua alasannya. Gue tahu semua jawabannya. Gue juga tahu semua masalah lo sama Sivia. Tapi, kayaknya lo tanya ke Sivia langsung aja deh. Gue nggak bisa ngomong. Ini privasi Sivia, Yo."


 

"Loh? Tadi katanya lo mau jelasin semuanya? Berarti kan ceritanya panjang?"


 

"Eh? Enggak. Maksud gue, gue cuman bakalan ceritain kenapa gue sama Sivia kenal. Udah gitu doang. Kalau masalah kalian berdua, gue nggak berhak ngomong Yo. Maaf banget. Lo pasti ngertilah maksud gue. Tapi kalau lo mau cerita sama gue tentang Sivia, gue jamin lo pasti nyambung."


 

Rio menghembuskan nafas berat. Dia menggelengkan kepalanya. Dia menyerah. Sepertinya memang harus dari mulut Sivia dia akan mendengar semua penjelasan itu. Entah kapan...


 

"Jadi, lo jenguk Sivia kan?"


 

Rio menoleh. Dia menimbang-nimbang sebentar. Dia ingin sekali menjenguk keadaan Sivia. Sangat ingin. Tapi ada sesuatu yang sempat dilupakannya tadi. Disana pasti sudah ada Cakka. Dia takut kalau emosinya tidak bisa diredam dan akhirnya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Lagipula, Sivia juga sudah membuktikan kalau dia mencintai Cakka dengan kejadian waktu itu kan? Ah Rio sudah merasa kalah. Lebih tepatnya, mengalah.


 

"Kayaknya nggak deh. Setelah gue pikir-pikir, kan ada Cakka juga." ujar Rio sedih.


 

Kali ini Gabriel yang menoleh. Rio membuang muka.


 

"Apa salah kalau lo ngejenguk Sivia?"


 

"Jelas salah lah."


 

Gabriel mengerutkan keningnya. "Dimana letak kesalahan lo?"


 

"Kesalahannya adalah gue datang kesana sebagai mantannya Sivia. Dan gue nggak mau sampai Cakka tahu kalau sebenarnya—"


 

"—Cakka sudah tahu. Gue yang ceritain kalau lo cinta pertamanya Sivia."


 

Rio memicingkan matanya. Apa-apaan Gabriel ini? Tadi katanya dia tidak mau menceritakan privasi Sivia kepada dirinya. Lalu kenapa dia menceritakan privasi Rio kepada Cakka?


 

"Tenang aja Yo. Gue tahu kalau Sivia nggak bakalan cerita masalah itu ke Cakka karena lo sahabatan sama Cakka. Gue yakin dia nggak mau ngerusak persahabatan lo berdua. Alhasil gue yang ngejelasin ke Cakka pelan-pelan tentang masalah ini. Cakka berhak tau. Tapi lo tenang aja. Dia bakalan jaga rahasia itu kok." jelas Gabriel. Sangat melenceng dari cerita aslinya. Dan sebenarnya sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan Rio tadi.


 

Bukan karena apa. Sebenarnya dia tidak ingin memihak kepada siapapun. Kepada Cakka ataupun kepada Rio. Namun, situasinya berbeda sekarang. Kalau dia berpihak kepada Rio, Sivia pasti tidak akan senang karena itu sama saja membunuh karakter Ify. Tapi jika dia berpihak kepada Cakka, Sivia tidak perlu mengetahuinya bukan? Toh dirinya sudah menyuruh Cakka untuk pura-pura tidak tahu saja jika di depan Sivia. Anggaplah tidak ada yang diceritakan oleh Gabriel kemarin. Lagipula, siapa tahu saja Cakka bisa merubah sikapnya karena sudah mengetahui sepelik apa hidup Sivia. Gabriel hanya berharap semoga ini keputusan terbaik yang pernah di ambilnya.


 

'Sorry Yo. Gue bohong. Kalau lo tahu Sivia sama Cakka cuman pacaran pura-pura, gue yakin pasti lo ngejar Sivia dan lo bakalan ninggalin Ify. Sivia pasti nggak mau liat Ify sedih. Sekali lagi, maafin gue Yo. Suatu saat, lo pasti ngerti.'


 

Rio menutup kedua matanya. Masalah ini benar-benar kompleks. Terlalu banyak lakon dalam kehidupannya membuat dunianya semakin ribet.


 

"Jadi gue mesti gimana Yel? Gue bingung."


 

"Lo jenguk aja Sivia."


 

"Lo yakin? Cakka?"


 

"Dia pasti bakalan ngerti. Lagian emang lo mau ngapain juga sama Sivia disana? Nggak ngapa-ngapain kan? Yaudah santai aja."


 

Rio berpikir sebentar.


 

"Ayolah Yo."


 

"Lo kenapa sih pengen banget gue ngejenguk Sivia, Yel?"


 

Gabriel terdiam. Dia mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan singkat dari Rio.


 

"Emm, sebenarnya bukan gue yang ngebet. Tapi...Cakka."


 

Rio menoleh takjub.


 


 

***


 


 

"Kalau udah ngantuk, tidur aja di sofa. Nggak usah ngebohongin mata lo. Ntar juga palingan Sivia sadar. Biar gue yang gantian jaga."


 

Ray menoleh ke Cakka yang sedang menonton televisi di sebuah kursi kayu. Dia sangat-sangat tidak percaya kalau Cakka bisa menjaga Sivia. Namun rasa kantuknya sudah tidak dapat ditahannya lagi.


 

"Gue nggak ngantuk."


 

"Gue bilang tidur aja. Ini udah jam sebelas malem. Sivia biar gue yang jaga. Nggak percaya lo sama gue?"


 

Ray berdiri lalu menghampiri Cakka. "Awas aja kalau lo macem-macem ya Kak!" Ray memberikan peringatan keras. Ia lalu mengambil selimut kecil yang berada di atas sofa itu. Kemudian direbahkannya tubuh mungilnya di atas sofa itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat Ray masuk ke dalam alam mimpinya.


 

Cakka melirik sekilas. Ray sudah tertidur. Dia mematikan siaran televisi itu. Lalu berdiri keluar dari ruangan itu. Dia celingak-celinguk sedang mencari seseorang. Lebih tepatnya dua orang. Namun objek yang dicarinya belum juga nampak. Ia mengangkat kedua bahunya. Lalu kembali masuk kembali ke ruangan Sivia.


 

Cakka menduduki kursi yang beberapa saat lalu diduduki oleh adiknya. Dia memperhatikan gadis itu. Sekilas dia terbayang cerita-cerita Gabriel kemarin. Sungguh tragis. Dia baru menyadari ternyata dibalik keceriaan Sivia, tersimpan luka yang amat mendalam. Sivia kehilangan kedua orang tuanya dan cinta pertamanya. Lalu setelah itu kehilangan tempat tinggal dan kebahagiaan. Jika dibandingkan dengan dirinya, sama sekali tidak ada apa-apanya. Cakka masih punya Papa. Masih punya adik. Dan masih bisa tinggal di rumah mewah milik Ayahnya. Dia mengakui dirinya sangat bodoh. Terbesit rasa benci pada dirinya sendiri. Dia sungguh kagum pada sosok Sivia. Di saat semua meninggalkannya, gadis itu masih tetap bisa tersenyum bahkan mengikhlaskan semuanya. Dia bangga.


 

Cakka sangat menyesal dengan semua perlakuannya pada Sivia. Jika diberikan kesempatan, dia akan mencoba pelan-pelan merubah semua ini. Yah. Cakka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia meraba tangan gadis itu. Lalu merengkuhnya dalam genggaman tangannya yang hangat. Cakka menutup matanya sejenak. Lalu tersenyum kecil.


 

"Lo jangan balik ke panti ya. Ray masih ngebutuhin elo."


 

Cakka membuka matanya. Lalu bergumam lagi. "Dan apa lo tau? Gue jauh lebih ngebutuhin elo, Siv."


 


 

***


 


 

Cie senyum senyum ya baca adegannya Cakka? Ngaku deh ngaku! Haha! (?)

Hai! Halo! Saya balik~ Sudah selesai UN. Jadi nganggur 4 bulan nunggu kuliahan *terus?-__-

Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan cerita yang ngadat-ngadat nggak jelas ini. Tiga bulan nggak ada nyentuh CK, ngebuat saya jadi lupa jalan cerita sama arah tujuan cerita nya haha! Anyway, makasih banyak buat yang mention sama nge wall buat nagih cerita ini-____- Tisa, Fhita, Ivo, Alya, Ismi, Kak Tari aduh siapa lagi saya lupa saking lamanya nggak dilanjut lanjut-___- *gantung diri*

Ah pokoknya buat semuanya yang sudah baca dan like part CK sebelumnya, saya ucapkan terima kasih banyaaaak~ berharap di part ini yang comment di fb maupun twitter masih se rame kayak yang sebelum-sebelumnya. Amin. Love you all :3


 

Cerbung CK ini juga bisa dibaca di http:www//resaechaa.blogspot.com

Follow me on twitter @Resaechaa